Riuh Rendah Kota Sabang

Penguasa Temasek dibuat pusing tujuh keliling bersua lawan tanding sepadan, Kolen. Persaingan berdarah-darah kedua pelabuhan guna menguasai Selat Malaka menggores narasi histori dunia.

Temasek di kemudian hari tumbuh menjadi negara kota yang sangat maju, Singapura.

Sayang waktu tidak bersikap ramah terhadap Kolen. Bandar tersebut dibombardir selama Perang Dunia menyisakan remah-remah Pelabuhan Sabang. Gerbang barat Indonesia ini sempat berjaya. Kini dengan tiga puluh ribu jiwa, Sabang masih menjadi pelabuhan yang sibuk di terminus barat Indonesia, walau tidak seberapa apabila dibandingkan dengan kejayaan masa lalunya.

Kota Sabang dibelah oleh sebuah jalan raya yang ramai, di jantung kotanya terdapat masyarakat multi-etnis yang hidup dalam perekonomian serba berkecukupan. Bahkan masyarakat Jawa dan Tionghoa terlihat sibuk dengan usaha mereka masing-masing di tengah kerumun warga Aceh.

Saya yang malam tadi tinggal dalam sebuah hotel uzur di sentra Sabang ini pun baru menyadari bahwa hotel tersebut dimiliki oleh seorang pengusaha Tionghoa. Encik yang duduk di bangku resepsionis tersenyum lebar kemudian terkekeh menyambut kedatangan saya. Barangkali heran melihat anak cina ini keluyuran sendiri sampai ke ujung Indonesia.

Udara Sabang begitu panas. Selazimnya. Debu dan gas buang sepeda motor memenuhi pusat kota yang cuma seputaran itu. Saya berusaha mengasingkan diri menjauh dari keramaian untuk bersua sedikit ketenangan. Alhasil, saya pun melewatkan senja di dermaga seorang diri.

Perjalanan ini masih panjang. Tentu saja. Namun Indonesia dimulai dari sini. Dari ujungnya yang paling barat nan riuh rendah.