Sore-Sore di Perairan Sabang

Ini bulan puasa, lumrah saja apabila mencari makan di Aceh lebih susah daripada mencari anggota DPR yang tidak korupsi. Jadilah saya menghabiskan sore untuk duduk-duduk di sempadan pantai, menantikan waktu berbuka walau saya tidak berpuasa.

Perairan Sabang begitu tenang, celah teluk sempit yang mengurung tanah ini kontras dengan Samudera Hindia yang brutal di sisi sebaliknya. Gelombang tenang hanya terlihat sesekali membelai-belai bebatuan kemudian selebihnya kalem. Saya berdiri seorang diri beralaskan sebuah batu besar, menatap jauh lepas ke hamparan Teluk Sabang.

Sampan-sampan Aceh berbentuk segitiga dengan ujung mengerucut runcing ke atas. Badan sampan dicat dengan warna-warni ngejreng, membawa nuansa semarak perairan Sabang. Barangkali karena itu bulan puasa, saya tidak melihat satu pun sampan bersauh, semuanya sedang bersandar tanpa tuan di dermaga, hanya terhubung oleh masing-masing seutas tambang.

Suara gerbang dibuka membuat saya sontak menoleh. Rumah makan kembali buka, melayani penjualan makanan untuk dibawa pulang. Saya pun bergegas mengantre di salah satu rumah makan yang mungkin labelnya agak nyeleneh, Aceh Tulen.

Ada faktor ras yang kental di dalam pemberian nama rumah makan ini, saya rasa. Pasalnya jalanan utama Sabang adalah melting pot, ketel lelehan, tempat berkumpulnya bermacam etnis, utamanya Jawa, Minang, maupun Tionghoa. Di sinilah etnis pribumi berjibaku mempertahankan eksistensi identitasnya di tengah bauran pendatang.

Saya cuek saja. Seporsi nasi bungkus kini berada di genggaman, yang kemudian langsung saya santap di dalam kamar hotel. Karakter masakannya mirip dengan koleganya di Sumatera Barat, meskipun kali ini porsinya luar biasa besar.