Ahok, Tiongkok, dan Morowali

“Itu Ahok kerjanya bagus! Beberapa tahun yang lalu saya ke Tanah Abang saja takut, sekarang bersih dan bagus!” lengking seorang ibu berjilbab pink yang duduk di seberang saya, “Ya mau bagaimana lagi harus diakui kalau Ahok itu paling bagus buat Jakarta! Orang Jakarta jangan mau dibodohi, nanti kamu harus pilih Ahok!”

“Ibu mau kalau Ahok jadi Bupati Morowali Utara?” tanya saya enteng.

“Ya tidak mau sih, kalau bisa ya orang asli Morowali,” jawabnya santai.

“Kok gitu?” tanya saya balik, “Tadi kata ibu kan Ahok bagus?”

“Iya,” jawabnya kencang sekali sehingga seisi bus menoleh ke arah kami, “Tetapi Morowali kan gampang ngurusnya! Tidak usah cari orang luar lah. Pakai putra daerah asal bersih pasti bisa. Kalau Jakarta itu susah. Harus Ahok! Ahok ke sini saya nggak mau pilih. Tapi kamu harus pilih di sana.”

Obrolan yang penuh lawak itu menemani perjalanan saya dari Danau Matano menuju ke Kota Kolonodale. Belum lama Bus Mega Mas yang kami tumpangi ini masuk ke wilayah Sulawesi Tengah. Jalanan hancur berbatu Luwu Timur seketika berubah wujud menjadi aspal mulus ketika memasuki Kabupaten Morowali Utara, sebuah kabupaten yang baru saja menikmati pemekaran daerah tiga tahun silam.

Morowali Utara dan induknya, Kabupaten Morowali, belakangan ini giat menjalin hubungan karib dengan Tiongkok. Investor-investor dari Negara Tirai Bambu menggelontorkan pundi-pundi uangnya ke dua kabupaten ini sebagai imbalan atas hak mengelola tambang nikel. Jalan raya yang dulunya berbatu-batu kini menjadi mulus, pelabuhan kontainer dan bandar udara baru dibangun, menyusul kemudian jalan lingkar yang membelah bukit kota ini dari sisi barat. Luar biasa.

Singkatnya, Morowali mengalami percepatan ekonomi yang menggembirakan sekaligus mengkhawatirkan.

“Khawatirnya adalah sumber daya manusia kami yang kurang,” ucap ibu tadi yang nampaknya awas dengan problematika daerahnya, “Semakin lama semakin banyak investasi Cina masuk ke sini. Daerah kami semakin kaya dan maju tetapi kami takut kalau hanya bisa menonton. Kami tidak mau seperti itu. Berilah masyarakat sekitar kemampuan juga dan pendidikan juga, biar kami bisa memanfaatkan kemajuan ini.”

Ibu itu benar. Ketika tambang-tambang dikeruk oleh perusahaan asing dan uang-uang dari Tiongkok mengalir ke Morowali, pemerintah kabupaten ini jangan hanya memikirkan keuntungan jangka pendek saja, istilahnya ambil uang terus kipas-kipas. Investasi di kualitas pendidikan adalah hal yang absolut untuk nasib Morowali Utara di kemudian hari. Semoga saja mereka membawa Morowali ke arah yang tepat.