Kepala naga itu menjulang di tengah alun-alun seakan menyembul dari bawah tanah. Sementara ekornya mencuat lima kilometer di tempat lain, tepatnya di depan Kantor Bupati Bau-Bau. Secara virtual, patung naga Bau-Bau ini sebenarnya adalah patung naga terpanjang di dunia, lantaran
Sulawesi
Derap Langkah Kota Bau-Bau
Tersuratlah namanya dalam Kitab Negarakertagama. Inilah Bau-Bau, wilayah paling dominan sepanjang rangkum sejarah Sulawesi Tenggara. Di naungan panji-panji Kesultanan Wolio, ia dikenal sebagai negeri petilasan para resi. Di lingkup republik, ia adalah kota yang makmur di jazirah tenggara Sulawesi. Delapan
Nokesa Sipaliha, Napabale
Hamparan hijau toska menghiasi pemandangan. Dinding-dinding karang berdiri tegak lurus mengurung luasannya. Gua-gua purba di sela-selanya adalah memoar akan kehidupan manusia pre-historis. Danau Napabale juga mengingatkan saya kepada Danau Kakaban di Kalimantan Timur, airnya asin. Kami berkunjung ke Pulau Muna
Suasana Tidak Enak di Raha
Sekitar lima-enam lusin manusia berdiri di ambang dermaga. Menunggu kapal dari Kendari ini bersandar di dindingnya. Inilah Raha, kota utama Muna, pulau sekaligus kabupaten di Sulawesi Tenggara. Lokasinya yang terletak tepat di antara Kendari dan Bau-Bau membuat wilayah ini menjadi
Sore di Universitas Haluoleo
Dengan tutupnya museum, maka kami pun kehilangan satu destinasi. Kehilangan destinasi bukan berarti kehilangan akal. Rudy mengusulkan agar kami mampir saja di Universitas Haluoleo, siapa tahu ada yang menarik di sana. Demikianlah, sore itu lokasi wisata kami adalah sebuah universitas.
Wisata ke Museum Tutup
Hari senin museumnya tutup. Tetapi halamannya buka. Karena banyak artefak yang dipajang di luar, jadi bisa saja dibilang Museum Negeri Sulawesi Tenggara ini masih separo buka. Kabar bagus buat Rudy dan saya yang masih bisa melihat-lihat sebagian koleksi museum ini
Oriental Pearl ala Kendari
Tiga tahun lalu butir-butir salju tipis berguguran di Shanghai. Saya duduk seorang diri melepas malam di ambang The Bund seraya menatap sebuah menara yang berpendar cantik di tengah kegelapan. Namanya saya tidak pernah lupa, Oriental Pearl Tower. Hari ini tidak
Rendezvous di Kota Kendari
Rudy sudah menunggu saya di Kendari. Mau cari angin, katanya. Entah angin apa yang dicari. Kunjungan saya yang pertama ke Sulawesi Tenggara ini memang begitu tidak terencana. Hampir segala aspek dari perjalanan ini, mulai dari tiket hingga destinasi tujuan lahir
Dari Monginsidi Jadi Haluoleo
Sorot cahaya matahari menyeruak masuk. Saya buru-buru menutup cover plastik jendela pesawat untuk menghalaunya. Semalam saya tidur tidak pulas di tengah dinginnya udara malam dan kerasnya bangku baja di sudut Bandara Sultan Hasanuddin. Sementara pagi ini, riuh pesawat kecil dan
Mengakhiri Suatu Perjalanan
Bahkan teruntuk sebuah rute penuh narasi seperti Sulawesi, perjalanan tetap punya ujung. Melesaknya sang mentari perlahan-lahan di balik bukit menandai hari terakhir perjalanan panjang saya. Esok saya harus sudah kembali ke Jakarta untuk menjalani rutinitas. Permasalahan post travel blues biarlah









