Di Solo, tempat asal saya, durian dibeli satu atau dua buah untuk dibawa pulang. Lain kasusnya dengan di Medan. Di kota ini jumlah durian lebih banyak daripada jumlah kutu di rambut anjing. Uniknya mereka senang memborong durian dalam jumlah lusinan
Sumatera
Rahmat Shah, Sang Kolektor
“Hewan yang sudah tua ataupun sakit akan diburu kemudian diawetkan jasadnya,” ungkap sang pemandu tanpa berkedip, kemudian melanjutkan kalimatnya, “Nantinya para pemburu diminta membayar sejumlah uang yang akan digunakan sebagai ongkos pelestarian. Jadi perburuan ini adalah bagian dari pelestarian.” Sedari
Berlabuh di Atap Rumah
Tanpa konteks tsunami, agaknya susah menjelaskan posisi kapal ini. Jelas bukan karya seni atau lelucon praktikal orang-orang Aceh. Kapal ini bersandar di atap sesudah dihantam gelombang Samudera Hindia dengan lambung berlabuh tepat di atas toilet rumah berlantai dua di Gampong
Kendara di Atas Vespa Tua
Ada dikata bahwa yang terpenting dalam hidup adalah pengharapan. Saya hanya berharap agar komponen sekuter ini tidak lepas terpisah-pisah ketika dikendarai melintasi jalanan Banda Aceh yang bergelombang bagai keripik Chitato. Dewi Fortuna masih berada di pihak kami. Saya dan Fathur
Melepas Sauh di Bumi Andalas
Baru satu kota dan fisik saya sudah hancur lebur. Kapal fery berjalan lambat-lambat membelah hampar Selat Benggala, meninggalkan Sabang menuju ke daratan luas Pulau Sumatra. Saya duduk bersandar di lorong sempit, hanya dipisahkan oleh buluh-buluh besi berkarat dengan laut lepas.
Peluncuran Jepang ke India
Hiraoka Kumeichi barangkali belum pernah mendengar nama Sabang sebelumnya. Namun teruntuk sang admiral, menarik sebagian besar armada Jepang dari Penang ke Aceh adalah demi sebuah cita-cita yang lebih tinggi, menguasai India. Penguasaan terhadap seantero Asia tidak mungkin berhenti di Indonesia
Bermotor Lintas Pulau Weh
Saya terdiam. Seorang wanita bercadar hitam serba tertutup, menyisakan sebaris lubang di kedua kolom matanya beranjak keluar dari rumah kayu yang ada di ujung jalan itu. Wanita itu menatap saya sebentar kemudian menghampiri rak botol yang tidak jauh dari tempat
Panas-Panas Siang Iboih
Eksotis. Satu kata yang sudah terlampau sering dilontarkan para pewarta wisata sehingga lambat laun kehilangan makna. Teruntuk masyarakat Lhok Iboih, hampar biru luas tiada batas ini bukanlah semata eksotisme, melainkan adalah sang kehidupan itu sendiri. Laut dan segala isinya sudah
Gelak Tawa di Lhok Iboih
Barangkali Iboih adalah satu-satunya tempat di Aceh untuk menikmati alkohol, pada siang bolong, tepat di bulan Ramadhan! Setidaknya itulah yang saya lihat dari senda gurau Pierre dan Liliane, sepasang turis Prancis di Iboih siang tadi. Wajar. Sebab di sudut yang
Kilometer Nol Indonesia
Bahkan teruntuk sebuah negeri yang terbentang enam ribu kilometer, segalanya masih harus dimulai dari kilometer nol. Saya termenung di tepi tebing terdepan Indonesia. Di seberang sana adalah tanah yang sama sekali asing, yang didiami oleh bangsa yang sama sekali berbeda,









