Pulau Sebatik adalah pulau terluar Republik Indonesia, satu pulau yang menjadi hak milik dua negara, Indonesia dan Malaysia. Waktu itu, saya berfoto di samping sebuah bendera merah putih yang berkibar pada halaman Patok Tiga yang terletak di desa Aji Kuning.
Month: November 2016
Menginap di Teluk Mayalibit
Tidak sampai dua menit kami dikelilingi puluhan orang, termasuk ibu-ibu dan anak-anak. Saya berusaha melempar senyum meskipun agak was-was. Mereka membalas dengan senyum lebar. Saya tiada sanggup melihat wajah bapak kepala desa. Suasana sekitar sudah terlampau gelap dan ayun-ayun nyala
Kendara Membelah Waigeo
Motor tua itu tersentak. Kemudian tersengal sekali. Lalu tersengal lagi. Pak Jajang beranjak dari tempat duduknya di jok depan, sembari mengusap peluh, beliau meminta agar saya mengambil kendali, “Sepertinya terlalu terjal buat saya, kamu saja yang kendarai, biar saya jalan
Danau Apa di Buntu Sesean?
Setiap pertanyaan demi pertanyaan yang kami lontarkan selalu berbalas dengan gelengan kepala atau ungkapan ketidaktahuan. Lantaran modal peta runyam dari Gramedia, jadilah kami berkeliaran di tempat yang tidak selazimnya ini. Rudy masih ngotot bahwa ada danau di sekitar Buntu Sesean
Secangkir Kopi dari Toraja
Duduklah saya bersama Rudy pada ambang warung berdinding kayu. Antara kami dengan jurang yang terbentang luas hanya terpisahkan oleh sebidang papan lapuk. Warung kopi kecil di Buntu Sesean ini menjadi puncak perjalanan kami menyusuri pesisir utara Toraja yang permai. “Kopi
Kendara ke Buntu Sesean
“Hebat juga ya pemerintah Toraja, listrik masuk sampai ke sini,” celetuk Rudy seraya mengamati tiang-tiang listrik yang miring nyaris bersandar di lereng-lereng bukit antah berantah. Saya tidak terlalu mempedulikan ocehannya karena sedang sibuk fokus ke jalan. Senja itu saya memboncengkan
Kuburan Batu di Kalimbuang
Selepas deret-deret menhir di Bori Kalimbuang, susuran setapak mengantarkan Rudy dan saya ke kaki tebing. Batu-batu besar terserak dari setiap sudutnya, tertutup bayang-bayang tebing yang membekas dari cahaya matahari sore. Permukaan batu-batu besar tadi dilubangi sedemikian rupa sebagai emplasemen jenazah.
Stonehenge Kalimbuang Bori
Di Toraja kami melihat Stonehenge. Lelucon bodoh ini membuat Rudy terkekeh-kekeh sewaktu kami berdua berjalan menyusuri rangkaian menhir menjulang di luasan Bori Kalimbuang. Apabila boleh jujur Bori Kalimbuang tidak kalah misterius dari Stonehenge. Tanah lapang yang terselip di Sesean ini
Menepi dari Riuh Rantepao
Di sebelah kanan kiri jalan hanya terlihat tongkonan demi tongkonan. Sesekali sawah. Kemudian tongkonan dan tongkonan lagi, sampai entah sudah berapa jauh kami dari Rantepao. “Ke mana kita ini?” tanya Rudy kepada saya dengan was-was. Saya juga tidak tahu. Pokoknya
Kuburan Bayi di Kambira
Tidak terlihat seorang pun di sana. Hanya sebaris bambu yang menjulang rapat-rapat memapas berkas cahaya matahari yang masuk dari sela-selanya. Tanah yang masih lembab karena hujan semalam mengantarkan Rudy dan saya menuju ke sebidang tanah yang ditumbuhi oleh pohon dengan









