Pukul setengah satu, roda pesawat terbang menggores aspal, meninggalkan jejak hitam di landas pacu Bandara Juwata di Tarakan. Sepintas saya melihat bandara ini pun sudah banyak berbenah, namun saya tidak punya banyak waktu untuk bernostalgia lantaran perjalanan saya masih dua
Kala Berjibaku di Sepinggan
Satu lagi pembatalan dan saya pun mulai memaki diri sendiri. Setidaknya ada enam penerbangan tanpa kepastian yang harus saya tempuh untuk mencapai Sebatik dari Jakarta. Persinggahan awal di Balikpapan, kemudian Tarakan, dilanjutkan penerbangan singkat ke Nunukan, dan terakhir saya harus
Bersua Dengan Suku Marind
“Kalau ada tanya foto ini, kasi tau mereka kalau sa mau upacara bunuh babi,” terang bapak berjaket kuning itu dengan nada begitu bangga. Nampaknya akan ada upacara adat besar di perkampungan seberang Sungai Kumbe sana. Saya baru saja turun dari
Tiga Menit di Sungai Kumbe
Entah ini sungai atau laut. Atau mungkin bisa juga disebut keduanya. Penyeberangan Kumbe ini terletak tepat di leher Sungai Kumbe yang berbatasan langsung dengan Laut Aru. Tidak sampai seratus meter ke sana semuanya sudah lautan lepas, yang artinya air sungai
Riuh Rendah Dermaga Kumbe
“Horeeee!” sekitar dua lusin bapak-bapak setengah baya berkulit legam itu bersorak-sorai setiap kali seseorang membawa sepeda motornya memasuki pintu gerbang dermaga. Inilah Dermaga Kumbe yang digunakan untuk menghubungkan antara dua daratan Kabupaten Merauke yang dipisahkan oleh Sungai Kumbe. Sungai Kumbe
Kampung Transmigrasi Salor
Teman saya hari ini adalah kaleng-kaleng kue Lebaran. Bersama Harry, Syamsir, dan Budi, saya beranjak dari satu kampung ke kampung lain di Salor, sebuah kecamatan yang terletak sekitar empat puluh kilometer di sebelah barat laut pusat kota Merauke. Bukan perkampungan
Padang Musamus di Salor
Savanna itu bertabur dua barang, pohon pandan dan sarang semut. Saya sempat tertegun ketika Harry menggeber sepeda motornya melewati padang rumput luas di kanan kiri jalan yang sejauh mata memandang terlihat ratusan sarang semut raksasa. Inilah musamus, sarang semut Merauke
Penerjunan Benny Moerdani
Tujuan Indonesia hanya satu, mengacaukan kekuatan Belanda di Pulau Biak. Apabila Merauke berhasil diinvasi dan diporak-porandakan maka Belanda akan mengerahkan pasukannya ke Merauke dan hal tersebut akan memecah konsentrasi pasukan mereka di Biak. Rencana berikutnya adalah menggempur Biak melalui Operasi
Bisik-Bisik Kemerdekaan Papua
“Di perbatasan seperti ini kemerdekaan adalah topik sensitif yang terus dibahas lewat bisik-bisik,” ungkap Pak Jhon kepada saya sembari mengisikan sebotol bensin ke dalam mesin perahunya, “Tidak banyak yang berani bicara. Tetapi semua berbisik-bisik, ada yang setuju merdeka tetapi banyak
Sunyi Taman Nasional Wasur
“Kakak mau berhenti di sana?” tanya Astrid sesaat ketika kami mendekati pintu gerbang Taman Nasional Wasur di Merauke, “Tidak ada siapa-siapa di sana, tetapi ada beberapa papan tulisan yang cocok untuk berfoto.” Entah mengapa di Indonesia sedang ngetren berfoto di









