Raung tangis anak kecil itu semakin kencang. Ibunya menarik anak laki-laki berambut keriting itu masuk ke pekarangan, memaksanya untuk mandi. Sementara tangisan semakin lantang dan kemudian si keriting merengek meminta permen yang justru membuat ibunya makin gusar. “Tarada! Tarada! Tarada
Dari Waisai ke Warsambin
Diperbandingkan dengan Warsambin, Waisai terlihat metropolitan. Desa ini hanya dua puluh atau tiga puluh rumah saja, apabila dihitung keseluruhan mungkin penduduknya hanya sedikit lebih dari seratus orang. Meskipun merupakan bagian de jure dari Provinsi Papua Barat, secara kultural Desa Warsambin,
Menyapa Pagi Pulau Waigeo
Secercah cahaya matahari yang menembus dari balik bukit menggoda saya untuk melongokkan wajah keluar dari kantung tidur. Malam telah kami lewatkan di atas dermaga kayu Teluk Mayalibit beratapkan langit malam yang bertabur bintang. Satu-satunya yang melindungi saya dari dingin udara
Ikan Segar dari Mayalibit
“Tidak usah tambah bumbu,” ucap saya seraya membantu menguliti lima ekor ikan yang baru saja dipancing dari perairan Teluk Mayalibit, “Ikan segar itu rasanya sudah enak tanpa perlu bumbu.” Lagipula kami memang tidak punya bumbu apapun untuk ditambahkan. Tetapi bolehlah
Selamat Hari Pahlawan 2016!
Pulau Sebatik adalah pulau terluar Republik Indonesia, satu pulau yang menjadi hak milik dua negara, Indonesia dan Malaysia. Waktu itu, saya berfoto di samping sebuah bendera merah putih yang berkibar pada halaman Patok Tiga yang terletak di desa Aji Kuning.
Menginap di Teluk Mayalibit
Tidak sampai dua menit kami dikelilingi puluhan orang, termasuk ibu-ibu dan anak-anak. Saya berusaha melempar senyum meskipun agak was-was. Mereka membalas dengan senyum lebar. Saya tiada sanggup melihat wajah bapak kepala desa. Suasana sekitar sudah terlampau gelap dan ayun-ayun nyala
Kendara Membelah Waigeo
Motor tua itu tersentak. Kemudian tersengal sekali. Lalu tersengal lagi. Pak Jajang beranjak dari tempat duduknya di jok depan, sembari mengusap peluh, beliau meminta agar saya mengambil kendali, “Sepertinya terlalu terjal buat saya, kamu saja yang kendarai, biar saya jalan
Danau Apa di Buntu Sesean?
Setiap pertanyaan demi pertanyaan yang kami lontarkan selalu berbalas dengan gelengan kepala atau ungkapan ketidaktahuan. Lantaran modal peta runyam dari Gramedia, jadilah kami berkeliaran di tempat yang tidak selazimnya ini. Rudy masih ngotot bahwa ada danau di sekitar Buntu Sesean
Secangkir Kopi dari Toraja
Duduklah saya bersama Rudy pada ambang warung berdinding kayu. Antara kami dengan jurang yang terbentang luas hanya terpisahkan oleh sebidang papan lapuk. Warung kopi kecil di Buntu Sesean ini menjadi puncak perjalanan kami menyusuri pesisir utara Toraja yang permai. “Kopi
Kendara ke Buntu Sesean
“Hebat juga ya pemerintah Toraja, listrik masuk sampai ke sini,” celetuk Rudy seraya mengamati tiang-tiang listrik yang miring nyaris bersandar di lereng-lereng bukit antah berantah. Saya tidak terlalu mempedulikan ocehannya karena sedang sibuk fokus ke jalan. Senja itu saya memboncengkan









