Tidak pernah terbayangkan bagi saya sebelumnya untuk mau menceburkan diri ke sungai berkapalkan seikat bambu. Batangan-batangan bambu sepanjang empat hingga lima meter diikatkan menjadi satu dengan daun dan dilarung ke sungai. Tidak cukup sampai situ, kita juga ikut menaikinya dan
Bamboo Rafting ala Loksado
Satu-satunya bambu yang pernah saya naiki hanyalah dipan di teras rumah. Belum pernah terbayangkan bagi saya sebelumnya apabila kemarin saya harus menaiki alas dipan menyusuri sungai di pedalaman Kalimantan. Dengan hanya bermodal batang-batang bambu yang jumlahnya satu lusin, bapak tersebut
Denyut Lirih Desa Loksado
Anak Bugis itu bermimpi mengambil jurusan hukum di Universitas Hasanuddin. Meskipun sebentar lagi dia lulus SMA, mimpi tersebut masih terasa begitu jauh. Dengan agak terseok-seok dia menyimpankan tas saya di gudang, sementara saya beranjak ke atas rakit kecil yang terombang-ambing
Memori dari Bubungan Tinggi
Teruntuk Nenek Hajjah Mulia yang telah berpulang pada suatu siang di hari Jumat. “Jangan difoto terus. Nenek malu,” katanya sembari terkekeh ketika Aci memotret nenek yang mendiami rumah adat ini. Nenek Mulia namanya. Tidak diketahui pasti berapa umur beliau, ada
Soto Banjar Pakai Ketupat
“Bagaimana jika saya makan tanpa ketupat?” tanya saya penasaran. Kalau itu jadi Sop Banjar, kurang lebih demikian jawab penjualnya. Entah itu jawaban yang serius atau sebatas kelakar, tetapi demikianlah adanya. Di sudut manapun dari kota Banjarmasin, tempat saya mencicipi soto
Shopping di Pasar Terapung
Wajahnya berseri-seri tatkala melihat sampan kayu ini mendekat. Kakek tua itu nampaknya mengendus bahwa pada pagi buta ini ia akan segera mendapatkan pembeli pertamanya, bagi ikat-ikat rambutan yang ada di lambung perahu. Entah berapa ikat rambutan merah ditumpuk rapi, dijajakan
Pasar Terapung Lok Baintan
Serombongan perahu bersesak-sesak, terapung perlahan demi perlahan berlepas pada aliran semenjana Sungai Martapura di kala matahari masih belum sepenuhnya menampakkan diri. Saya berdiri berpegang pada seutas kabel baja Jembatan Lok Baintan menatap jauh. Rombongan, seratus entah dua ratus, perahu lamat-lamat
Berlabuh di Atap Rumah
Tanpa konteks tsunami, agaknya susah menjelaskan posisi kapal ini. Jelas bukan karya seni atau lelucon praktikal orang-orang Aceh. Kapal ini bersandar di atap sesudah dihantam gelombang Samudera Hindia dengan lambung berlabuh tepat di atas toilet rumah berlantai dua di Gampong
Kendara di Atas Vespa Tua
Ada dikata bahwa yang terpenting dalam hidup adalah pengharapan. Saya hanya berharap agar komponen sekuter ini tidak lepas terpisah-pisah ketika dikendarai melintasi jalanan Banda Aceh yang bergelombang bagai keripik Chitato. Dewi Fortuna masih berada di pihak kami. Saya dan Fathur
Melepas Sauh di Bumi Andalas
Baru satu kota dan fisik saya sudah hancur lebur. Kapal fery berjalan lambat-lambat membelah hampar Selat Benggala, meninggalkan Sabang menuju ke daratan luas Pulau Sumatra. Saya duduk bersandar di lorong sempit, hanya dipisahkan oleh buluh-buluh besi berkarat dengan laut lepas.









