Udara dingin menyeruak. Kabut mulai turun. Sementara saya masih terpaku seorang diri di tepi jalanan sepi Kabupaten Minahasa. Sudah tiga jam saya berada di sini penuh harap akan ada mobil melintas yang berbaik hati memberikan tumpangan. Jarang sekali ada mobil
Month: December 2015
Terdampar di Tondano
“Tondano? Ini Tondano. Kamu mau turun di mana?” tanya si sopir angkot kebingungan. Wajar apabila dia kebingungan sebab saya sendiri juga bingung mau turun di mana. Pokoknya saya hanya ingin melihat Danau Tondano, terserah mau turun di mana. Akhirnya diturunkannyalah
Pertunjukan Brutal Tomohon
Besar laiknya sebilah golok, pisau daging setebal jengkal tangan itu dihujamkan begitu saja. Terlepaslah sudah kepala babi itu dari tubuhnya. Ini bukan golok pembunuh naga, ini golok pembunuh babi. Bagi saya, itu adalah pertunjukan brutal. Bagi para pedagang yang berdiam
Kunjungan ke Pasar Tomohon
“Nggak mau! Nggak mau! Pokoknya cuma aku makan tikus!” seorang anak kecil beteriak-teriak menangis kencang, menjejak-jejakkan kakinya, di depan pelataran pasar yang riuh. “Diam kamu! Kemarin kita sudah makan tikus. Hari ini papah kamu minta soa-soa (kadal)!” jawab ibunya sambil
Usaha Membangun Waisai
Empat ruas jalan beton memangkas perbukitan kota kecil Waisai menjadi dua bagian, dari hulu ke hilir melintasi hutan dan prairi. Seakan abai terhadap kekosongan di sekitarnya, jalan raya selebar ini terlihat aneh memotong tanah-tanah yang tidak berpenduduk. “Itu karena kami
Cerita Guru Bahasa Inggris
Namanya Jajang Kusnara. Lama sudah Pak Jajang menetap di Papua Barat untuk mengajar Bahasa Inggris kepada murid-murid SMA Negeri 1 Waisai. Lahir dan besar di Bandung, Pak Jajang mengabdikan dirinya menjadi guru di Papua. Mata pelajaran yang diampunya adalah Bahasa
Sore Pantai Waisai Tercinta!
Namanya bagaikan pernyataan, namun seakan ia sedang memohon untuk dicintai. Pantai Waisai Tercinta nama pantai ini. Terletak di pesisir kota Waisai menghadap langsung ke Selat Dampier. Airnya berkilap bagaikan cermin angkasa. Ketika langit berwarna biru, maka laut pun biru. Ketika
Membelah Selat Dampier
Setengah lusin anak-anak usia sekolah dasar berlarian menghampiri saya. Mengabaikan panasnya Kota Sorong, mereka bertelanjang kaki di aspal dermaga. Kemudian salah seorang dari mereka menyodorkan sekotak kardus lusuh. Di atas kardus itu tertempel stiker besar berwarna biru tua bergaris-garis hitam.
Di Bawah Kaki Tampaksiring
“Presiden Soekarno bikin istana itu di atas sana, kadang bawa teropong,” kata kakek itu sambil terkekeh ketika duduk di sebelah saya di halaman Pura Tirta Empul. Pura yang dibangun di luasan mata air Tukad Pakerisan ini memang berada tepat di
Basuh Diri di Tirta Empul
Airnya demikian dingin. Saya mencelupkan kaki ke dalam kolam, sementara air mengucur deras melalui rongga-rongga pipanya yang berbentuk mulut kendi. Pagi itu saya seorang diri di ceruk pura. Pura Tirta Empul lazimnya dijadikan sebagai pelataran untuk ritual bebersih diri. Masyarakat









