Semerbak kopi tercium di ruangan itu. Sesap-sesap secangkir kopi menyisakan rasa kopi yang berat namun tidak asam berbaur dengan aroma cokelat dan tembakau. Inilah kopi Arabica khas Wamena yang punya nuansa rempah-rempah nan rancak. Di tanah Papua hanya terdapat dua
Papua
Wamena di Simpang Jalan
Entah mau ke mana kota ini melangkah. Wamena terlihat selayaknya kota-kota kecil lain di Indonesia, dengan segala fasilitasnya yang amburadul. Namun terlihat bahwa Wamena seakan-akan berada di sebuah persimpangan jalan, kebingugan dengan identitasnya sendiri dan tidak tahu mau membawa dirinya
Terbang Menembus Jayawijaya
Terbang rendah menuju Wamena adalah sebuah kengerian tersendiri. Pesawat yang kami tumpangi harus meliuk-liuk melewati sela-sela Pegunungan Jayawijaya yang sejauh mata memandang hanya berselimutkan hutan lebat. Ada sebuah celah yang dikenal oleh para pilot sebagai “The Gate”, yaitu pasase masuk
Hidup di Ambang Mamberamo
Di sebalik awan-awan lembut mengambang rendah itu tersimpan lekuk-lekuk urat Sungai Mamberamo dan sebuah harapan besar, membuka keterisolasian wilayah tengah Mamberamo. Dua belas tahun silam pemerintah republik ini menganugerahkan otonomi, memisahkan Mamberamo Tengah dari induknya, Kabupaten Jayawijaya. Akses serba susah
Riuh Rendah Pantai Holtekamp
Lekukan kecil yang terpampang pada peta itu pada mulanya saya anggap tidak penting. Namun belakangan saya baru menyadari bahwa sebuah teluk kecil di bibir Laut Pasifik ini memaksa saya berjalan memutar dan menambah waktu tempuh saya dari Jayapura ke Skouw
Ban Bocor di Ambang Negara
Sebenarnya dari persimpangan Mabo saya sudah merasakan sepeda motor sedikit oleng. Ternyata memang ban belakang agak kempes. Masalahnya adalah saya berada di tengah-tengah hutan sementara perbatasan Skouw dan segala fasilitasnya masih berada sekitar 15 kilometer di seberang sana. Jadilah saya
Di Perbatasan Papua Nugini
“Saya dan keluarga hari ini ke Indonesia,” cerita bapak dari seberang Papua Nugini yang duduk di sebelah saya di Pasar Skouw dengan Bahasa Indonesia terbata-bata, “Kami mau beli mi instan.” Entah serius atau melawak, bapak ini membawa seisi keluarganya menyeberangi
Tempat Bernama Skouw Itu
“Buat apa merdeka kalau hanya sedikit orang saja yang menikmatinya? Buat apa merdeka apabila nanti masyarakat tidak sejahtera?” pria legam berambut putih awut-awutan itu menyeringai lebar memperlihatkan gigi-giginya yang rompal-rompal tidak karuan. Dia duduk di kiosnya tidak jauh dari garis
Papeda, Papua Penuh Damai
Menyantap kuliner lokal seakan-akan sudah menjadi rutinitas wajib ketika berkunjung ke suatu daerah. Itulah yang mendorong saya menyisir ambang pantai di Teluk Humboldt Jayapura, memasuki rumah makan satu per satu, dan menanyakan, “Ada papeda?” Akhirnya saya berhasil menemukan satu rumah
Sentani Mendunia dari Festival
“Ayolah kawan, saya sudah cukup bersabar,” celetuk si pembawa acara dengan logat Papua kental. Sudah lima belas menit dia menunggui para penari untuk naik ke panggung namun mereka tidak menampakkan batang hidungnya barang sedikitpun. Menunggu dan menunggu. Akhirnya para penari









