Kuala Lumpur di Sidoarjo

Lapindo adalah perusahaan minyak lokal yang populer karena alasan yang salah. Insiden waduk lumpur yang terjadi sepuluh tahun silam di kawasan Porong, Sidoarjo, membuat perusahaan milik taipan Bakrie ini menghiasi kolom berita media-media kardinal.

Ini adalah salah satu dari banyak desa yang sejarahnya coreng-moreng. Delapan puluh lima juta liter lumpur menyembur dari dalam rahim bumi selama hampir sepuluh tahun, menenggelamkan enam belas desa dan sepuluh ribu rumah yang dihuni tiga puluh lima ribu jiwa.

Masif. Tentu saja. Melihat Porong sekarang ibarat menyaksikan lapangan becek yang beberapa bagiannya sudah mengering dan mulai ditumbuhi perdu.

Pak Hamdan masih merelakan. Bahkan di dalam situasi seperti ini, kebesaran hatinya barangkali lebih luas daripada hamparan lumpur, “Semua ini rencana Gusti Allah. Saya dan keluarga sudah pindah delapan tahun yang lalu dan terbiasa dengan hidup di kampung yang baru.”

Entahlah. Yang jelas tidak semuanya seperti Pak Hamdan. Di bawah tanggul sana, di badan jalan tepatnya, puluhan orang masih kerap terlihat berteriak-teriak sambil membawa spanduk. Intinya mereka tidak puas dengan ganti rugi yang diberikan pemerintah.

Rumah Pak Hamdan dahulu tidak jauh dari Desa Rekonengo, tempat musibah pengeboran terjadi sepuluh tahun silam. Hanya dalam medio sedikit bulan, keluarganya menjadi tunawisma seperti saya. Bedanya, itu bukan karena keinginan mereka sendiri.

Lama kami berdua berdiri di bibir tanggul tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Di sisi kanan saya adalah lintasan Surabaya-Malang yang ramai seakan tidak awas akan apa yang terjadi pada seberang jalan. Sementara di sisi kiri saya terhampar sebuah danau lumpur buatan manusia yang luasnya berhektar-hektar.

Sebuah eskavator terlihat sibuk mengeruk lumpur meskipun ini hari minggu. Meskipun luap-luap lumpur sudah jauh berkurang namun masalah yang menghadang masih besar.