“Terserah kalian mau naik ke sana tanpa menoleh, tanpa berkedip, tanpa bernapas, atau apapun,” kelakar si bapak petugas taman nasional sehari sebelum pendakian kami, “Saja juga tidak paham siapa yang mulai duluan dengan cerita aneh-aneh itu.” Bapak itu bercerita ihwal
Pagi Hari di Ranu Kumbolo
Terangkatnya kabut pekat dari pelataran Ranu Kumbolo menyibak pemandangan danau permai ini di hadapan saya. Bagi saya tidak ada kata terlampau pagi untuk menikmati bagaimana sebuah tempat mulai berdenyut mengawali hari. Beberapa dahan pohon jatuh melintang di sisi selatan danau
Selamat Hari Waisak 2017
Candi Borobudur adalah candi Buddhis terbesar di dunia. Bangunan tunggal yang masif ini berkali-kali pernah mengalami pemugaran maupun pengrusakan baik secara alamiah maupun gara-gara teror bom. Foto ini saya ambil sekitar empat belas tahun silam, ketika sedang berkunjung ke Kota
Ranu Kumbolo Ikon Semeru
Keindahan dan kesunyian biasanya berbaur menjadi satu. Pagi hari Ranu Kumbolo dihiasi lipatan kabut tebal mengarak di hadapan tenda yang menghadap langsung ke hamparan air permai di pertengahan jalur pendakian Semeru ini. Sunyi senyap suasana pagi menambah indahnya danau bernuansa
Malam Beku di Sisi Semeru
“Kami masak soto ya mas,” tanya salah satu porter yang menemani perjalanan kami malam itu terkait menu makan malam kami. Saya hanya bisa mengiyakan karena dalam situasi seperti ini makanan apapun harus disyukuri. Berada di bawah naungan pondok kayu yang
Malam Hari Tiba di Kumbolo
Matahari sudah lima belas menit terbenam, tetapi kami belum sampai juga. Suasana dari hutan sudah berubah menjadi gelap gulita hingga kami terpaksa mengeluarkan senter masing-masing dari dalam ransel. Vegetasi yang semakin merunduk juga membuat kami harus ekstra hati-hati lantaran salah-salah
Dihadang Hujan dan Longsor
Di atas saya hanya terlihat tebing batu putih tegak lurus tersembunyi di balik kabut yang tidak merata. Watu Rejeng. Inilah tebing nan masyhur lantaran di dalam kondisi cuaca buruk seperti ini batu-batu acapkali berjatuhan dari atas sana menimpa apa saja
Menerobos Kabut Semeru
Selepas dari pos dua, halimun pekat memayungi Semeru. Jarak pandang yang hanya dua meter terus terang membuat kami jauh lebih berhati-hati mendampingi tim. Saya hanya dapat berdecak ngeri ketika pohon-pohon cemara yang tinggi menjulang tidak nampak pangkal-pangkalnya lantaran terbenam di
Selalu Ada Semangka di Pos
Entah siapa yang mulai duluan. Yang jelas salah seorang dari kami nyeletuk ihwal dirinya menginginkan semangka segar di Gunung Semeru. Pernyataan anekdotal ini secara tidak terduga disambar oleh Pak Sugeng yang menjelaskan bahwa semangka akan ada di setiap pos menuju
Angkat Ransel ke Semeru
Angin berhembus perlahan, namun sudah cukup untuk menggoreskan nuansa dingin di sekitar wajah ini. Kami berjalan beriringan bersama-sama para porter untuk memulai pendakian Gunung Semeru. Saat itu pukul dua lewat sedikit, perjalanan panjang dimulai dengan target tiba di Ranu Kumbolo









