Pergi ke pasar pada pagi hari adalah rutinitas ibu-ibu. Tatkala berada di Kota Banjarmasin kemarin, saya mencoba untuk menapaktilas jejak ibu-ibu dengan mengunjungi pasar yang terletak di sebelah kantor gubernur Kalimantan Selatan. Meskipun berada jauh di Kalimantan, pemandangan pasar tradisional
Rumah Tua di Banjarmasin
Rumah-rumah kayu tua itu nampak lebih tua daripada jalannya. Namun yang jelas tidak lebih tua daripada sungainya. Bagi siapapun yang melintas di waterfront Sungai Martapura, rumah ini tidak akan luput dari pandangan karena wujudnya yang begitu mencolok. Demikianlah, gugus-gugus kolonial
Temaram Sungai Martapura
Sudah lebih tiga jam lewat di Banjarmasin. Sementara awan hitam seakan tak bosan-bosannya memayungi sedari kedatangan saya siang tadi. Matahari baru saja terbenam ketika saya berjalan seorang diri menggendong ransel hitam menyusuri perkampungan di pelipir Sungai Martapura. Kota Seribu Sungai,
Sisir Tambang di Tabalong
Pertambangan ialah salah satu urusan rumit dengan simpang-simpang siluman dan ribuan muara kepentingan yang nyaris tidak masuk akal untuk diformulasi. Ada kepentingan si ini, si itu, dan si anu di lubang-lubang besar yang dikeruk di penampang planet ini. Tentu tidak
Singgah Sejenak di Amuntai
Dua ratus kilometer dari Kota Banjarmasin, mobil yang membawa kami berempat berhenti di tepi jalan. Teman-teman saya bergegas keluar untuk menjalankan ibadah sholat di salah satu masjid yang terletak di pinggir jalan provinsi. Sementara saya berjalan-jalan meluruskan kaki sembari melihat-lihat
Berdodol Ria di Kandangan
“Ya itu mereka orang baru belajar bikin dodol,” kata Pak Sopir yang mengantar kami malam itu, entah meledek atau merendah. Tatapan saya tidak bisa lepas baris-baris kedai penjual dodol yang ada di sepanjang jalan raya dari Kota Banjarmasin menuju Kota
Makam Tua yang Terabaikan
Jerangan matahari senja yang jahanam tidak mengurungkan niat saya untuk menyusuri pekarangan yang terbengkalai di sudut Kota Pangkalpinang ini. Beberapa nisan tua nampak teronggok di sudut-sudutnya, tidak ada yang mempedulikan. Adalah sebuah keajaiban bahwa bongkah-bongkah batu makam ini masih bertahan
Seorang Diri di Pasir Padi
Barangkali tidak ada yang cukup sinting untuk bermain-main di pantai pada tengah hari yang panas membara tepat di tengah bulan puasa seperti ini. Tidak mengherankan apabila Pantai Pasir Padi pada pagi ini nampak sedemikian kosong. Hanya terlihat beberapa orang penduduk
Museum Timah Pangkalpinang
Derak roda loko sudah lenyap diredam zaman. Seakan memberi kesempatan bagi deru mesin truk untuk menggantikannya. Zaman memang telah berubah. Namun Bangka tetaplah identik dengan timah yang bertebaran di seantero tanahnya. Etimologi Bangka sendiri lahir dari kata ‘wanka’ yang berarti
Sisa Kejayaan Nusa Timah
Batangan timah itu terasa agak dingin tatkala bersentuhan dengan punggung tangan saya yang terbakar matahari. Stempel ‘Banka’ terpahat jelas pada salah satu penampangnya. Trademark, kata mereka, untuk timah kualitas terbaik yang pernah ada di nusantara. Timah Bangka sempat menghidupi dunia.









