“Dulu ya di sini itu semuanya nelayan,” sergah Pak Kuswadi siang itu. Tangan-tangan uzurnya nampak lincah memperbaiki ban sepeda yang meleset dari alurnya. Sementara Ian dan saya duduk di sebelahnya, menunggu ikan bakar yang kami pesan tiba. Dulu. Itu satu
Riuh Rendah Pantai Sawarna
Dari Pantai Ciantir anda hanya perlu menimurkan diri dua kilometer. Berjalan melipir melangkahi bebatuan licin sembari berpegangan kepada dinding karang. Ada tiga titik pemandangan menarik di sana, yaitu Tanjung Layar, Karang Taraje, dan Laguna Pari. Berbeda dengan tetangganya di barat,
Tanjung Layar Ikon Sawarna
Penatapan utama area timur Sawarna adalah Tanjung Layar. Dinamai demikian karena adanya karang raksasa berbentuk mirip layar kapal laut. Di puncaknya terdapat beberapa pohon pendek yang masih hijau. Kata Pak Emi, penduduk asli Sawarna, pohon tersebut sudah puluhan tahun di
Berselancar di Karanghawu
Selain kami, ada sekelompok warga Australia yang bermalam di sebuah guesthouse tidak jauh dari rumah Pak Emi. Menurut pengakuan Pak Emi, pantai selatan Banten justru lebih populer di kalangan bule-bule Australia daripada kalangan turis-turis domestik. Ini mungkin disebabkan oleh tujuan
Dari Menara Pandang Siring
Yang unik barangkali adalah dinamika ekonomi di sekitar sungai. Saya melihat banyak pedagang roti keliling yang menjajakan rotinya di atas perahu-perahu kecil yang menyusuri sungai. Mereka berputar-putar di sekitar Sungai Martapura dan Sungai Antasan untuk menawarkan roti kepada para penghuni
Perahu Penjual Rambutan
“Rambutan berapa sekitar, Pak?” tanya saya dari atas pondok ketika melihat sampan penuh rambutan melintas di sungai yang berada tepat di bawah rumah bambu kecil ini. “Lima ribu,” kata bapak itu menengadah seraya mengapit sigaret yang masih menyala di antara
Memoar Museum Wasaka
Setelah melalui petualangan berputar-putar dan anekdot museum yang digembok, akhirnya saya bisa masuk juga ke museum perjuangan kebanggaan rakyat Kalimantan Selatan ini. Museum ini tidak terlalu besar, ukurannya mungkin hanya selapang dua kali ruang kelas. Isinya pun termasuk sangat sederhana,
Selamat Hari Paskah 2017
Gereja Tua Hila adalah gereja tertua di Maluku yang berusia lima ratus tahun. Gereja ini kini telah ditinggalkan oleh jemaatnya akibat konflik etno-religi pada penghujung abad silam. Meskipun sempat hancur, gereja ini telah diperbaiki kembali seperti semula dan menjadi salah
Singgah di Museum Wasaka
Setelah berputar-putar hampir satu jam mencari museum yang posisinya tidak jelas ini, akhirnya saya berhasil menemukannya. Dengan puas saya pun bergegas masuk. Alangkah terkejutnya saya melihat pintu museum tersebut terkunci rapat. Digembok. Lho, museum kok digembok? Ataukah memang hari ini
Di Masjid Sultan Suriansyah
“Kiai Damang Astungkara mendirikan wakaf Lawang Agung Masjid di Nagri Banjar Darussalam pada hari Isnain pada sapuluh hari bulan Sya’ban,” kemudian tulisan masih berlanjut namun samar-samar nyaris tidak terbaca. Gurat-gurat tulisan aksara Arab-Melayu itu tertatah selama lima abad di daun









