Matahari menyembul dari bawah larik-larik awan hitam yang tenang mengambang rendah di sebalik Gunung Rinjani. Angkasa terbakar jingga dengan warna yang bersaturasi tinggi, berbaur menjadi satu dengan kegelapan yang perlahan-lahan merengut kebiruan langit. Matahari terbenam di Lombok selalu indah. Entah
Kendara Membelah Lombok
Tiada yang lebih menggoda saya daripada jalanannya yang beraspal mulus. Melintasi paparan Pantai Senggigi pada sore hari di tengah basuh gerimis menjadi agenda perjalanan saya kali ini. Menyusuri paparan barat Pulau Lombok memang menggiurkan. Apa lagi kalau bukan lantaran jalan
Cantiknya Pantai Senggigi
Di ambang hampar pasir putihnya yang tenang menyeluk di balik tanjung, Senggigi menjelma menjadi pantai kardinal. Turis-turis yang menyemuti tanah ini semenjak medio 1990-an mengubah raut sempadan pantai yang pernah senyap ini. Hotel-hotel untuk segala kedalaman kantong bermunculan di tepi
Langit Membara di Senggigi
Awan hitam yang tadi menyesaki angkasa Senggigi kini tersisa selarik. Matahari yang menjelang hembus-hembus napas terakhirnya di hari itu menyala kuat-kuat memancarkan semburat cahaya jingga ke seantero cakrawala. Langit Senggigi seakan terbakar, menyala di senja yang tenang. Saya senang melewatkan
Mencicipi Bandara Lombok
Pada masa infansinya, bandara ini pernah menjadi arena wisata keluarga. Absurd memang. Dibangunnya bandara di Lombok Praya menggantikan fungsi Selaparang dimaksudkan untuk menghidupkan belah selatan pulau Sasak ini. Dengan adanya bandara yang terletak di papar selatan Pulau Lombok diharapkan pariwisata
Di Bawah Nama Fatmawati
Awalnya Fatmawati bermaksud meminta pendapat Soekarno ihwal pinangan seorang anak wedana terhadap dirinya. Bukannya mendapatkan saran, Soekarno justru menyatakan cinta. Di Bumi Rafflesia inilah Fatmawati, seorang keturunan putri dari Kerajaan Indrapura, mengenyam pendidikan di sebuah sekolah Katholik. Dalam pembuangannya di
Di Bengkulu Melepas Senja
Mentari surut di sebalik pantai. Saya duduk seorang diri di atap tembok Fort Marlborough seraya memicingkan mata ke arah pantai. Silau. Panasnya sore berbaur dengan angin laut yang kencang membuat permukaan kulit serasa digosok dengan amplas. Sekumpulan anak-anak remaja bercengkerama
Risalah Inggris di Bengkulu
Inggris pernah menyimpan harapan besar pada tanah ini. Ketika mereka pertama kali berlabuh di Bengkulu pada tahun 1685, Inggris mempersiapkannya sebagai dermaga masif yang menghubungkan nusantara dengan koloni di India dan Cina, sekaligus penyuplai rempah-rempah. Namun ternyata Bengkulu bukan tanah
Defensi Akhir Inggris Raya
Sesekali jembatan kayu itu berderak ketika saya langkahi. Sebelum memasuki pintu gerbang Fort Marlborough, ada jembatan sepanjang belasan meter yang menghubungkan antara dinding depan dengan bagian dalam benteng. Di sisinya tergolek tiga bongkah nisan, yang salah satunya adalah atas nama
Kronikal Fort Marlborough
Menatap samudera yang terpapar di kakinya, ada eksotisme yang tidak terbantahkan. Namun untuk dua lusin serdadu Britania yang ditugaskan di benteng tersebut dua abad silam, dataran itu begitu senyap dan sedih. Tak ayal, mereka perlahan larut dalam candu dan minuman









