Baru kali pertama saya melihat kuburan bak etalase toko serba ada. Setidaknya seratus patung kayu berpakaian lengkap disusunkan berjajar di kolom-kolom tebing. Setiap balkon menampung hingga selusin patung, yang masing-masing menghadap ke arah perbukitan lepas, menghasilkan suasana surreal ketika saya
Kematian di Tana Toraja
“Mari kemari, kakak harus bertemu nenek,” ajak gadis kecil itu dengan senyum cerah yang saya jawab lewat sebuah anggukan ringan. Tentu saja. Mengapa tidak? Barangkali nenek punya cerita menarik untuk dibagikan kepada saya. Saya berjalan mengikutinya menyusuri petak-petak sawah dan
Telaga Permai di Sisi Toraja
Kerikil sebesar kepalan tangan tersebar merata di badan jalan. Laluan sempit yang membawa kami ke Telaga Tilanga memang tidak beraspal. Sepeda motor yang saya kemudikan berulang kali terperosok ke dalam lubang jalanan, hingga akhirnya saya menyuruh Rudy untuk turun dan
Disambut Bakso Babi Toraja
Kami hanya mendapat dua opsi, kerbau atau babi. Rudy dan saya akhirnya sepakat memilih babi sebagai makan pagi, mungkin karena kami merasa lebih familiar dengan rasanya. Perjalanan semalam suntuk dari Makassar dengan bus yang nyaman mengantarkan kami di sentra kota
Berkunjung ke Tana Toraja
Alih-alih tidur di sepanjang perjalanan, saya justru menyibukkan diri dengan buku. Meskipun bus dari Makassar ke Rantepao punya kursi yang tebal empuk seperti sofa ruang tamu, keingintahuan saya tentang Toraja memaku kedua mata pada catatan-catatan kultural perihal tanah mistis ini.
Kekayaan dari Alur Sungai
Satu dua tongkang batu bara melintas masuk lewat sela-sela Jembatan Siak. Sungai terdalam di Indonesia inilah yang menjadi urat nadi, arus lalu lintas bagi segala komoditas yang keluar masuk Riau, yang mana Siak Sri Indrapura menjadi pintu gerbangnya. Tidak mengherankan
Jalan Mulus di Jantung Siak
Dengan volume kendaraan yang hidup segan mati tak mau, rasanya aneh melihat jalan-jalan raya di Siak Sri Indrapura membentang mulus tanpa pelintas. Butuh waktu beberapa saat bagi saya untuk membiasakan diri dengan nuansa janggal di kabupaten kaya minyak ini. Otonomi
Kemegahan Jembatan Siak
Empat atau lima kilometer saya berjalan menyusuri waterfront berpagar itu. Sepanjang berjalan di tengah hujan rintik-rintik, tidak seorang pun terlihat di jalanan. Kota Siak Sri Inderapura siang itu benar-benar sepi. Satu-satunya yang berpapasan dengan saya adalah sebuah kapal pengangkut kayu
Kota Siak yang Kaya Raya
Bohong apabila saya mengatakan kota Siak tidak nampak istimewa. Sepuluh menit sebelum kapal motor merapat di dermaga, saya terpana disuguhi pemandangan gedung-gedung megah yang memagari Sungai Siak. Gedung pemerintahan, rumah ibadah, jembatan di atas sungai, semuanya serba eksageratif dalam ukuran
Sultan Tiga Belas Juta Gulden
Beliau adalah penasehat pribadi Presiden Soekarno. Beliau pulalah salah satu sultan pertama di nusantara yang menyatakan siap bergabung dengan Republik Indonesia dan menyumbangkan kekayaan sebesar tiga belas juta gulden untuk republik yang masih belia itu. Atas dedikasinya kepada republik, Sultan









