Ketika istana raja-raja nusantara lazimnya memamerkan jimat dan kelewang, Istana Sultan Siak Sri Inderapura justru menonjolkan teknologi entertainment set dari dua abad yang lampau. Tepat di ruang tengah istana tersebut terdapat sebuah ruang makan bergaya ningrat. Namun ornamental yang paling
Indonesia Dijajah Prancis
Lapisan es tebal Sungai Rhine menjadi lintasan legiun-legiun Napoleon yang berbaris memasuki Belanda. Serbuan mendadak pada musim dingin 1795 itu menjadi titik awal jatuhnya Kerajaan Belanda ke tangan Kekaisaran Prancis yang dipimpin oleh Napoleon Bonaparte. Di Istana Siak, Napoleon Bonaparte
Sisa-Sisa Kesultanan Siak
Gaung proklamasi di Jakarta tiada punya arti tanpa pergerakan di kantong-kantong republik yang baru lahir itu. Indonesia tidak begitu saja terbentuk langsung dari Sabang hingga Merauke. Ada pengorbanan dan pengabdian yang melandasi jalan terjal terbentuknya republik ini. Sultan Syarif Kasim
Istana Siak Sri Indrapura
Singgah di Siak Sri Indrapura bagaikan meneropong masa silam Semenanjung Malaka, kemudian tersedot ke dalamnya. Ada gurat-gurat sejarah yang ditatah di kota kecil ini, yang mengingatkan kita bahwa dulunya di tempat ini pernah ada sentra sebuah Kesultanan Melayu nan masif.
Becak Kurus dari Siak
“Boleh saya foto kan, Pak?” tanya saya yang hanya dijawab cengiran saja. Bapak tua itu hanyalah satu dari sekian lusin pengayuh becak yang bolak-balik dari muka Istana Kesultanan Siak ke pelabuhan di pinggir Sungai Siak. Berbeda dengan kompatriotnya di Jawa
Jungkir Balik di Sungai Siak
Belum pukul delapan pagi saya sudah duduk manis di dermaga Sungai Duku. Kapal motor yang akan membawa pejalan ngenes ini ke Siak Sri Indrapura akan segera bertolak dari ambang sungai Pekanbaru. Perjalanannya sendiri makan waktu dua jam, maka sewajarnya kunjungan
Guide Ngasal Pura Jagatnatha
“Ya, itu barang kuno. Yang ini juga barang purba,” kata bapak itu dengan nada datar. Sepertinya dia memang tidak tahu apa-apa soal museum sunyi sepi yang terletak pas di samping Pura Agung Jagatnatha ini. “Sudahlah, Pak. Yang penting bapak fotoin
Ubud Writers & Readers Fest
Dua tahun berturut-turut, saya selalu hadir di Ubud Writer’s and Reader’s Festival. Mungkin bagi sebagian besar orang, bergelut dengan buku-buku yang dulunya mainstream, kini beralih menjadi hipster. Begitulah buku sudah beralih fungsi menjadi hiburan sekunder. Jelaslah saya bukan hipster soal
Sejarah Panjang Pura Kehen
Usianya sudah sangat tua. Bahkan terlampau tua untuk bisa diketahui secara pasti kapan pura ini dibangun dan oleh siapa. Satu-satunya petunjuk yang mengisyaratkan pembangunan Pura Kehen adalah tiga prasasti yang bertarikh abad ke-9 hingga 12 Masehi. Hal ini menunjukkan bahwa
Disarankan ke Pura Kehen
“Disebutlah tanah Bangli sedang diperintah oleh seorang raja yang sangat bijaksana bergelar Ratu Bhatara Guru Sri Adhikunti Ketana. Beliau ingin membangun Pura yang akan dijadikan pemujaan oleh penduduk Bangli, bahkan rakyat Bali.” Tidak sebiasanya saya mengikuti saran Lonely Planet. Namun









