Mentari surut di sebalik pantai. Saya duduk seorang diri di atap tembok Fort Marlborough seraya memicingkan mata ke arah pantai. Silau. Panasnya sore berbaur dengan angin laut yang kencang membuat permukaan kulit serasa digosok dengan amplas. Sekumpulan anak-anak remaja bercengkerama
Bengkulu
Risalah Inggris di Bengkulu
Inggris pernah menyimpan harapan besar pada tanah ini. Ketika mereka pertama kali berlabuh di Bengkulu pada tahun 1685, Inggris mempersiapkannya sebagai dermaga masif yang menghubungkan nusantara dengan koloni di India dan Cina, sekaligus penyuplai rempah-rempah. Namun ternyata Bengkulu bukan tanah
Defensi Akhir Inggris Raya
Sesekali jembatan kayu itu berderak ketika saya langkahi. Sebelum memasuki pintu gerbang Fort Marlborough, ada jembatan sepanjang belasan meter yang menghubungkan antara dinding depan dengan bagian dalam benteng. Di sisinya tergolek tiga bongkah nisan, yang salah satunya adalah atas nama
Kronikal Fort Marlborough
Menatap samudera yang terpapar di kakinya, ada eksotisme yang tidak terbantahkan. Namun untuk dua lusin serdadu Britania yang ditugaskan di benteng tersebut dua abad silam, dataran itu begitu senyap dan sedih. Tak ayal, mereka perlahan larut dalam candu dan minuman
Senja di Makam Inggris
Hujan membasuh bongkah-bongkah nisan muram di samping bangunan sekolah. Saya berteduh di bawah lengkung gapura, bertahan dari guyuran hujan yang tiba-tiba. Dua orang remaja berjongkok tidak jauh. Tanah kober ini adalah memoar akan sebuah pagebluk dua abad lampau. Sebuah endemi
Jejak Soekarno di Bengkulu
Diapit gelora Samudera Hindia dan dibentengi belantara Bukit Barisan. Situasi tanah ini yang terisolasi membuat Inggris menyerah. Sementara Belanda punya ide lain, memanfaatkan Bengkulu yang terpencil sebagai tanah pembuangan. Enam tahun lamanya Soekarno menjalani eksil di Bengkulu. Rumah cantik itu
Thomas Parr yang Terusik
Lelaki Bugis itu mendobrak pintu kamar dan membabatkan parang secara membabi buta. Tebasan demi tebasan mengoyak tubuh Thomas Parr. Sang residen tua tewas mandi darah di hadap istrinya, kepalanya dipisahkan dari tubuhnya dan dibawa lari. Sementara di luar sana, di
Horor dari Danau Dendam
“Kemarin baru saja ketemu mayat di dekat sana,” oceh tukang ojek berkumis tebal yang mengantar saya pagi-pagi dari kota Bengkulu, “Beberapa kali di situ memang jadi tempat buang mayat.” Danau Dendam Tak Sudah. Danau yang sepintas terdengar bertema horor ini
Ke Pantai Lewat Rumah Orang
Alih-alih menemukan jalan pintas untuk mencapai pinggir pantai, GPS justru memaksa saya menerobos pekarangan rumah orang. Berjalan dari kota dengan panduan GPS membawa saya memasuki keruwetan lorong-lorong sempit di sepanjang tepian kota Bengkulu. Lucunya, rute pemintas yang saya ambil pada
Nestapa dari Lintas Barat
Sopir berteriak-teriak sembari memukul-mukul badan bus. Penumpang yang hanya segelintir itu sontak ramai-ramai turun. Ini di tengah hutan. Bukit Barisan Selatan masih dipayungi kabut muram sementara matahari baru akan terbit. Seorang bapak setengah baya menggerutu sembari menepuk-nepuk topinya. Sopir marah-marah









