Saya tidak mau berdebat, tetapi menurut saya Tanah Lot adalah tempat terbanyak dipotret di seantero arkipelago. Bahkan apabila mau disanding dengan Candi Borobudur dan Gunung Bromo, saya masih yakin foto-foto Tanah Lot jauh lebih banyak tersebar di poster-poster wisata Indonesia.
Sua Ubud di Pekat Malam
Ubud adalah desa yang tumbuh meriah berkat pariwisata. Jati diri Ubud sebagai ikon spiritual Bali kini terpapas oleh hiruk pikuk lalu lintasnya sepanjang siang. Barulah ketika matahari terbenam dan kios-kios pedagang mulai tutup, ketenangan yang dulu pernah ada itu seakan
Riuh Rendah Pantai Holtekamp
Lekukan kecil yang terpampang pada peta itu pada mulanya saya anggap tidak penting. Namun belakangan saya baru menyadari bahwa sebuah teluk kecil di bibir Laut Pasifik ini memaksa saya berjalan memutar dan menambah waktu tempuh saya dari Jayapura ke Skouw
Ban Bocor di Ambang Negara
Sebenarnya dari persimpangan Mabo saya sudah merasakan sepeda motor sedikit oleng. Ternyata memang ban belakang agak kempes. Masalahnya adalah saya berada di tengah-tengah hutan sementara perbatasan Skouw dan segala fasilitasnya masih berada sekitar 15 kilometer di seberang sana. Jadilah saya
Di Perbatasan Papua Nugini
“Saya dan keluarga hari ini ke Indonesia,” cerita bapak dari seberang Papua Nugini yang duduk di sebelah saya di Pasar Skouw dengan Bahasa Indonesia terbata-bata, “Kami mau beli mi instan.” Entah serius atau melawak, bapak ini membawa seisi keluarganya menyeberangi
Tempat Bernama Skouw Itu
“Buat apa merdeka kalau hanya sedikit orang saja yang menikmatinya? Buat apa merdeka apabila nanti masyarakat tidak sejahtera?” pria legam berambut putih awut-awutan itu menyeringai lebar memperlihatkan gigi-giginya yang rompal-rompal tidak karuan. Dia duduk di kiosnya tidak jauh dari garis
Papeda, Papua Penuh Damai
Menyantap kuliner lokal seakan-akan sudah menjadi rutinitas wajib ketika berkunjung ke suatu daerah. Itulah yang mendorong saya menyisir ambang pantai di Teluk Humboldt Jayapura, memasuki rumah makan satu per satu, dan menanyakan, “Ada papeda?” Akhirnya saya berhasil menemukan satu rumah
Sentani Mendunia dari Festival
“Ayolah kawan, saya sudah cukup bersabar,” celetuk si pembawa acara dengan logat Papua kental. Sudah lima belas menit dia menunggui para penari untuk naik ke panggung namun mereka tidak menampakkan batang hidungnya barang sedikitpun. Menunggu dan menunggu. Akhirnya para penari
Meriah Festival Danau Sentani
Gadis-gadis hitam manis itu berdandan dengan coreng-moreng putih di seluruh wajahnya. Kelimanya duduk di sebuah bangku panjang, menatap ke lantai seakan-akan merasa tidak nyaman menjadi tontonan sedemikian banyak orang. Tidak lama kemudian tiga orang pria berbadan tambun duduk di sebelah
Kunyah-Kunyah Buah Pinang
“Saya tidak suka orang yang makan buah pinang itu apalagi kalau orang-orang Wamena itu, mereka kotor sekali meludah pinang di mana-mana,” pemuda Papua tamatan SMA yang berkepala plontos terus nyerocos di hadapan saya, “Kami dari Yahukimo. Saya tidak suak makan









