Andaikan ia adalah sebuah dinding, maka Douglas MacArthur pasti penuh dekorasi. Jenderal bintang lima Amerika Serikat ini merupakan salah satu tokoh paling berpengaruh di dalam Teater Perang Pasifik pada Perang Dunia II. Sosoknya yang liar dan tidak taat aturan sudah
Totem Histori Tugu MacArthur
“Old soldiers never die; they just fade away.” – Douglas MacArthur Mengikuti GPS justru mengantarkan saya ke markas TNI-AD. Saya berhenti di pos penjagaan kemudian menanyakan ihwal Tugu MacArthur, tentara yang berjaga di situ berpesan, “Silakan masuk saja, nanti ada
Danau Sentani Ikon Jayapura
Secara harafiah, Sentani bermakna “damai di sini”. Ada dua puluh dua pulau terhampar di tengah-tengahnya. Dari kaki Pegunungan Cycloop hingga pesisir kawasan urban Abepura, Danau Sentani yang permai memang tiada ubannya ikon bagi Jayapura. Semua yang mendarat di Bandara Sentani
Jayapura Itu Bukan Hutan
“Jayapura? Mau apa kau ke pedalaman seperti itu? Mencari suku primitif di dalam hutan?” rentetan pertanyaan yang dijejalkan oleh sahabat saya sesaat sebelum berangkat ke Jayapura membuat saya terhenyak. Entah dari mana asalnya, pemahaman bahwa Jayapura adalah hutan merupakan anggapan
Senja di Kepahiang Kabawetan
Jalanan di Kepahiang adalah lorong yang diapit pohon-pohon tanpa cabang yang berdiri tegak lurus layaknya pagar pekarangan. Di sebaliknya hampar hijau kebun teh melingkungi kawasan Kepahiang Kabawetan dalam satu sebaran yang berujung pada hutan tropis di ujung sana yang mana
Danau Mas Harun Bastari
Disebut Danau Mas karena warna permukaannya agak kekuningan seperti emas. Demikianlah menurut sebuah tulisan saya saya cerabut dari internet. Lantaran tulisan tersebut pulalah saya harus bersusah payah memicingkan mata mencari kekuningan yang dimaksud. Sejauh mata memandang hanya terlihat sebuah danau
Bukit Kaba Berselimut Kabut
Halimun turun setinggi hidung. Saya berdiri di ambang tebing Bukit Kaba, menatap jauh ke arah kawah gunung yang tertutup oleh gugus-gugus kabut tebal. Sebenarnya saya menantikan tersibaknya kabut agar pemandangan cantik di depan sana terhampar jelas, sayangnya sedari tadi cuaca
Kabut Tebal di Bukit Kaba
Kabut yang turun semakin ditunggu malah semakin tebal. Tidak terlihat ada apapun di bawah sana. Cindy dan saya menunggui di puncak bukit sembari diterpa ciprat-ciprat air gerimis yang turun dengan agak segan. Padahal kami tahu ini adalah puncak yang berbahaya.
Berjibaku Menuju Bukit Kaba
Naik ke Bukit Kaba ibarat berkendara di atas permukaan bulan. Jalanan yang hanya selebar rentangan kaki dengan permukaan bercampur antara bebatuan keras dan lumpur becek membuat sepeda motor yang kami tumpangi harus terseok-seok dalam penanjakan yang lebih cocok ditaklukkan dengan
Rafflesia Arnoldii nan Raksasa
“Tidak ada yang mekar sekarang, dua minggu lagi, Bang!” pesan singkat dari Pak Zul tersebut menyudahi niatan saya untuk membelokkan rute dari Pagaralam. Namun yang jelas dua minggu kemudian saya kembali ke Tanah Pasemah. Bukan lagi Tanah Pasemah tujuan saya,









