Rafflesia Mekar. Sebaris tulisan corat-coret merah di spanduk kumal yang terpancang di tepi jalan lintas Kepahiang mengalihkan perhatian kami. Pak Yono menepikan mobil ke bahu jalan yang berlumpur. Saya melompat turun dan menyapa seorang bapak tua yang berdiri di bawah
Kuwah Itek Khas Bireuen
Orang sini menyebutnya sie itek, secara harafiah artinya kuah itik. Kuliner khas Bireuen ini punya kuah kental dengan rempah-rempah yang rancak memadu rasa pedas manis yang tiada duanya. Belum makan pun baunya sudah semerbak memenuhi udara restoran yang tidak terlampau
Lagi-Lagi Warung Kopi
Apabila saya berpikir sekembali dari Gayo tidak akan berjumpa kopi untuk sejenak, saya salah besar. Hanya sesaat setelah meninggalkan Takengon dan singgah di Bireuen, saya harus lagi-lagi bertemu dengan kopi. Sama seperti Dataran Tinggi Gayo, warga kawasan dataran rendah ini
Mengunjungi Kota Basis GAM
Damai Itu Indah. Pandangan saya belum bisa lepas dari rentangan spanduk-spanduk hijau di tepi jalan raya yang bertuliskan kata-kata yang sama. Entah berapa banyak spanduk serupa yang saya temukan di sepanjang jalan menuju Bireuen. Bak sebuah konvensi, “Damai Itu Indah”
Bireuen Pernah Jadi Ibukota
Dibandingkan para kompatriot penyandang status ibukota negara, Bireuen boleh dibilang yang paling tidak dikenal. Baik Jakarta, Yogyakarta, maupun Bukittinggi tentu lebih akrab terdengar telinga masyarakat Indonesia dibandingkan dengan kota kecil Aceh yang terletak di simpang Banda Aceh, Lhokseumawe, dan Takengon
Bener Meriah Benar Meriah?
Minibus yang setengah catnya terkelupas itu berhenti di hadapan saya. Pak Sopir melongokkan kepala ke arah saya di tepi jalanan Gayo yang siang itu sepi seakan-akan ditinggal kabur separuh penduduknya, “Ke Bener Meriah?” Bener Meriah. Nama yang terkesan ceria itu
Deru Pembangunan Balikpapan
Balikpapan adalah rimba urban. Kota minyak yang selama ini menyandang posisi sebagai kota terbesar kedua di Provinsi Kalimantan Timur setelah Samarinda ini boleh dibilang justru lebih maju daripada kompatriotnya. Menyusuri jalanan utama Balikpapan ibarat menyaksikan jajaran etalase pembangunan di mana-mana.
Jembatan Korban 16 Nyawa
Sebagian besar wajah Kutai Kartanegara ada di jembatan ini. Putusnya bentang kabel-kabel baja yang menopang komprador sepanjang tujuh ratus meter tak ayal mengirimkan para pelintasnya ke dasar Sungai Mahakam. Sebanyak enam belas nyawa melayang dan puluhan luka-luka akibat insiden yang
Di Balik Topeng Hudoq Dayak
Sejatinya hudoq punya makna jelma. Mengenakan topeng hudoq berarti mengisyaratkan sebuah penjelmaan, yang mana para tetua adat Dayak dikesankan menjelma menjadi seekor burung. Hudoq merupakan ritual syukur kepada roh nenek moyang yang spesifik dilakukan orang suku-suku Dayak inhabitan Provinsi Kalimantan
Adat Dayak Kalimantan Timur
Kayuhan sepeda saya akhiri di sebuah rumah betang yang ada di sudut Pulau Kumala. Suasana sekitar terkesan sepi lantaran tempat ini cukup jauh dari jembatan. Hanya terdapat dua orang, laki-laki dan perempuan tua, yang duduk di hadapan meja kayu yang









