Tenggarong punya cerita jembatan ambruk. Itulah mengapa tatkala saya berjalan kaki melintasi jembatan ini ada sedikit sirat rasa was-was apalagi setelah mengetahui bahwa tiang pondasi jembatan ini disambung dengan las. Demikianlah kedalaman Sungai Mahakam di sisi Pulau Kumala ternyata lebih
Monster Sangatta yang Abadi
Hairani, Baddu, Darwis, dan mata saya pun terus menyapu deret-deret dua lusin nama lainnya yang hampir pudar di mading beralas tripleks. Nama-nama tersebut ada di sana karena satu alasan, mereka semua dimangsa buaya. Kutai memang dikenal punyai banyak sungai yang
Museum Kayu Tuah Himba
Semakin lama lintasan semakin menyempit. Kami masuk ke perkampungan kecil dengan rumah-rumah berhalaman luas di kanan kiri jalan, sementara tebing semakin merapat hingga akhirnya jalan raya itu pun habis. Saya nyengir ke arah sopir yang dibalasnya dengan garuk-garuk kepala. Intinya,
Kuburan Keluarga Sultan Kutai
Nisan-nisan legam itu tersusun sedemikian rupa. Berjajar rapi dalam ukuran yang tidak seragam, besar dan kecil, entah apakah menyimpan makna akan nilai kepentingan dari yang dikenang atau sekedar selera pembuatnya. Yang jelas baris-baris nisan yang terletak di sisi Kraton Kutai
Jejak di Museum Mulawarman
Hujan gerimis membasuh di luar sana nuansanya nyaris tidak terdengar. Ambien museum nan lapang ini dipenuhi dengan alunan musik tradisional Kutai yang menghentak-hentak serasa menggetarkan deretan kaca jendela. Saya berjalan menyusuri lorong-lorong museum yang menyimpan koleksi Kesultanan Kutai yang disimpan
Perjalanan Tujuh Belas Abad
Kutai Martadipura adalah bagian dari narasi terpenting nusantara yang tersisa. Walaupun diyakini ada kerajaan yang mendahului Kutai di nusantara ini semisal Sakalanagara, namun dari seluruh peninggalan yang hingga saat ini masih bertahan, Kutai boleh mengklaim diri sebagai kerajaan tertua di
Indralaya yang Semakin Riuh
Indralaya bukanlah nama yang dulu pernah saya dengar. Mencuatnya nama ibukota Kabupaten Ogan Ilir ini dalam perencanaan proyek pembangunan jalan tol lintas Sumatera terus terang mengalihkan perhatian saya. Tidak ada keterkejutan sama sekali ketika menemukan Indralaya berupa sebuah kota yang
Kota Prabumulih, Kota Minyak
Tidak ada apa-apa di sini. Celetukan teman saya dari Palembang tentang Prabumulih itu membuat saya urung niat untuk berlama-lama di kota ini. Bolehlah sebatas bersinggah, namun tiadalah guna berlama-lama karena di sini hanya ada minyak, demikian pesannya. Prabumulih sejatinya bukanlah
Letup Kelas Menengah Lahat
Perhentian di Lahat mengingatkan saya kepada kota-kota kecil di selatan Jawa Tengah pada tahun 1990-an. Lalu lintas yang ramai, ekonomi mikro yang sedang bergairah, dan kota yang tengah meluap melebihi kapasitasnya. Namun tentu saja Lahat ikut merasakan gelora pertumbuhan kelas
Bukit Serelo, Gunung Jempol!
“Kamu ingin memotret gunung itu?” tanya Pak Sopir kepada saya yang terlihat menggenggam kamera sembari menerawang ke luar jendela mobil, “Sebentar. Nanti di depan sana ada tikungan yang bagus buat memotret.” Benarlah kemudian. Mobil diberhentikan di sebuah tikungan, Bukit Serelo









