Seumur hidupnya Dandung hanya pernah melihat tanah ini dan laut ini. Delapan belas setengah tahun, katanya, tiada sehari pun dilewatkan di seluar pulau-pulau selepas timur badan Kalimantan memutar ulang rutinitas yang sama hari demi hari. Terkecuali hari ini. Dandung sedang
Hidup dari Laut Derawan
Tangan-tangan tua yang kekar itu mencomoti ikan dari boks styrofoam, perlahan-lahan Pak Faisal mengambil satu demi satu hasil tangkapan semalam dan meletakkannya di nampan baja. Tidak lama kemudian setiap ikan telah berpindah ke tempat yang baru. “Yang ini kita makan
Tanjung Batu Terminus Berau
Dua orang nelayan yang berjalan di lorong dermaga itu barangkali berniat bilang, “Kamu sudah terlambat anak muda, pulanglah ke Tanjungredeb.” Untunglah mereka tidak bilang begitu. Tetapi memang benar. Saya terlampau sore tiba di tempat ini. Selazimnya orang menyeberang ke Pulau
Kembali ke Bandara Kalimarau
Seperti yang pernah saya bilang dulu, bandara ini seakan-akan dicerabut dari kota metropolitan seperti Denpasar atau Makassar kemudian dijatuhkan di tengah-tengah hutan rimba Kalimantan. Bandara Kalimarau adalah salah satu bandara favorit saya di Indonesia. Bukan saja karena desain bangunannya yang
Ihwal Car-Free Day Jakarta
Jakarta pada minggu pagi adalah hingar bingar paling sinting di Asia Tenggara. Selang waktu yang hanya empat jam berlabel car-free day ini memang menjadi tampilan menarik yang mana warga Jakarta kompak tumplek blek di jalan raya tanpa kendaraan bermotor. Saat
Selamat Datang yang Terbalik
Tatkala berhadapan dengan fakta bahwa bandara sudah dipindahkan tiga kali dan kota ini sudah jauh berkembang menjadi lebih dari apa yang sudah-sudah, Jakarta seakan diminta merumuskan kembali perspektif arah dalam berbagai konteks kota ini. Apabila dulu Monas adalah tengah kota,
Tuan Bosscha Istirahat Di Sini
Posisi makam tua itu berdampingan dengan kebun teh Malabar. Seratus tahun silam, bakul-bakul biji teh diboyong dari Assam, utara India, menuju Pangalengan. Tidak berapa lama terhamparlah perkebunan teh di papar Malabar, yang luasannya hingga ke naungan Papandayan. Lantaran tidak pernah
Kebun Teh Warisan Bosscha
Percayalah. Tidak pernah ada satu pun pengusaha perkebunan teh di Priangan yang lebih tenar daripada Bosscha. Bukan semata lantaran kepiawaiannya mengelola kebun teh Malabar, namun juga kemanusiaan dan kedermawanannya. Sikapnya yang berlainan dengan kebanyakan juragan tanah Belanda menjadikan sosok Bosscha
Hancurkan Radio Malabar!
Berkali-kali pemuda itu mencoba menyalakan gendewesi. Namun korek yang terbuat dari besi itu tidak mampu menyala. Nyaris putus asa mereka mencoba untuk memantik api, namun sekalinya berhasil api langsung padam sesaat sebelum membakar sumbu dinamit. Sekali. Dua kali. Entah bagaimana
Villa Jerman di Pangalengan
Menerawang melalui kaca mobil yang berbintik-bintik oleh hujan, mata saya tidak bisa lepas dari sebuah rumah tua beratap kembar di seberang danau. Beberapa tahun lewat, saya acap melintasi jalan raya Pangalengan dan bertanya-tanya ihwal rumah ini. Sepuluh tahun berlalu, saya









