Di bawahnya bukan sungai. Melainkan jalan raya. Tepatnya Jalan Ahmad Yani yang ramai tepat di episentrum kota Bukittinggi. Jembatan Limpapeh membentang sepanjang sembilan puluh meter, menghubungkan Fort De Kock dengan Taman Margasatwa dan Budaya Kinantan. Pada medio bulan puasa seperti
Parade Histori Bukittinggi
Untuk sebuah kota yang terbilang muda, Bukittinggi bertaburkan lika-liku historikal. Bermula dari berdirinya Fort de Kock di puncak Bukit Jirek, kota yang terletak di ambang jurang ini terbentuk begitu saja dari pemukiman yang menjamur di seterus Pasar Agam Tuo. Selama
Ekuator yang Terlewat
Saya tidak sempat melihatnya. Seharusnya tadi kami melintasi sebuah bola dunia berwarna biru di Bonjol, di tempat inilah garis khatulistiwa membelah Sumatera menjadi dua bagian. Lantaran kurang awas, alih-alih mengabadikan monumen tersebut, saya justru melewatkannya. Sudahlah. Toh bus ini tidak
Jalan Panjang di Pasaman
Ini bus malam atau rumah hantu? Pertama lampu padam sehingga perjalanan malam itu menjadi gelap gulita. Kemudian beberapa bagian atapnya bocor sehingga saya harus dua kali berpindah tempat duduk apabila tidak mau basah kuyup. Terakhir seorang perempuan di bangku belakang
Kesasar di Gununghalu
Bermodal peta purbakala dan lusuh dari Gramedia, saya kemarin tersasar di Gunung Halu. Lazimnya sih orang mengenal Gununghalu dengan Curug Malela, namun kali ini saya ke sana bukan untuk mencari air terjun. Saya ke sana untuk mencari jalan tembus ke
Kereta Api Tatar Pasundan
Bandung bukanlah yang pertama. Dua puluh tahun setelah Staats Spoorwagen membangun jalur kereta api di Semarang, barulah kemudian Bandung dilirik. Bukan salah Bandung. Memang harus jujur dataran Priangan adalah medan berat serba sulit bagi pembangunan transportasi semacam kereta api, belum
Tahu Bungkeng Sumedang
Muka saya belepotan. Hitam legam lantaran debu jalanan. Hampir tiga jam saya abai akan buram kacamata berkendara seorang diri dari Bandung ke Sumedang. Dari keluaran Bandung di Cileunyi yang padat sesak dengan kendaraan, hingga melintasi jalur maut Cadas Pangeran nan
Gelap Pekat Malam Terakhir
Cahaya lilin menari-nari liar tertiup desir angin hutan. Seperti sebiasanya, Kersik Tuo gelap gulita lantaran mati listrik semenjak sore tadi. Gunung Kerinci dan hampar luasan perkebunan teh yang siang tadi nampak apik kini sudah sama sekali tidak terlihat. Jalan kecil
Liar Alam Ladeh Panjang
Ladeh Panjang bukan nama yang familiar bagi masyarakat luas. Namun bagi pegiat satwa, nama ini menjadi totem Sumatera bagian Barat. Inilah rawa-rawa yang merupakan sangtuari, kediaman harimau Sumatera di Jambi, harapan sekaligus remah-remah terakhir sang raja hutan selain Bukit Barisan
Sekilas Tentang Kayu Aro
Darjeeling memang bukan. Namun sebaran perkebunan teh luasan Kayu Aro yang menghampar hingga lereng-lereng Kerinci memang mengingatkan saya kepada eloknya Benggala Barat. Konon seluruh bibit teh yang ada di perkebunan ini pada mulanya dibawa dari Assam oleh kolonialis. Dari sanalah









