Bagi Maeda kata-kata “perebutan kekuasaan” terlampau keras. Sang laksamana khawatir apabila kata-kata tersebut nanti akan disalahartikan masyarakat untuk menjarah sisa-sisa nafas terakhir Jepang di nusantara. Setelah berdebat sengit di meja makan rumah itu, akhirnya mereka sepakat untuk menggunakan istilah lain,
Negeri Mini Museum Nasional
Setiap negara membutuhkan identitas. Identitas tidak serta-merta maujud begitu saja, melainkan dipahat sedikit demi sedikit seiring dengan perjalanan sejarah bangsa tersebut. Museum ibarat sinopsis suatu bangsa, penyederhanaan dan penyingkatan brutal terhadap rekaman perjalanan panjang suatu bangsa agar dapat dinikmati dalam
Sawah Jaring Laba-Laba
Sawah. Ya, cuma sawah. Tetapi ada satu alasan menarik yang membuat saya dan Lomar rela merogoh kocek Rp 50.000 untuk menyewa angkot dari kota Ruteng ke desa Cancar. Berbeda dengan pola sawah yang ada di Jawa, sawah yang terdapat di
Rumah Gendang Cinta Laura
Penduduk Desa Compang menyebut rumah mereka dengan sebutan Mbaru Gendang. Pasalnya ruangan tengah rumah yang dihuni oleh empat keluarga ini dihiasi oleh alat musik gendang. Berbeda dengan gendang yang ada di Jawa, gendang khas Manggarai ada yang salah satu sisinya
Neka Rabo Itu Jangan Marah
“Neka rabo!” demikian salam penuh sapa yang sering saya dengar dari penduduk kota Ruteng. Secara harafiah, neka rabo artinya adalah jangan marah. Bukan berarti mereka mengira kita marah. Meskipun kita tersenyum pun mereka akan menyapa kita lewat salam tersebut. Jadi
Menilik Desa Compang Ruteng
Altar batu itu teronggok di depan beberapa rumah penduduk desa itu. Bukan sekedar altar batu biasa, melainkan altar batu seluas lapangan voli yang di tengahnya terdapat sebuah pohon dadap. Penduduk sekitar menggunakan altar ini sebagai tatak pemujaan kepada Tuhan, dengan
Pagi Beku di Katedral Ruteng
Dengan mengenakan celana training dan track-jacket saya berjalan menembus dinginnya kota Ruteng pada pagi hari. Segerombolan anak-anak kecil berteriak-teriak heboh melihat saya dari lubang jendela kelasnya ketika saya melintas di depan sebuah sekolah. Saya hanya tersenyum simpul dan membidikkan kamera
Ruteng, Kota di Atas Awan
Tidak nampak lagi runtut awan yang ada kemarin. Nampaknya hujan deras semalam suntuk telah membilas langit Ruteng menjadi bersih, biru benderang. Kabut tipis serau menggantung rendah di lembah nan jauh, mengalasi kaki dataran tinggi Manggarai Tengah yang berlekuk-lekuk apik. Ruteng
Santa Maria Berduka Cita
Hari sudah gelap ketika kami menjejakkan kaki di kota Ruteng yang dingin. Rekomendasi Lonely Planet mengantar kami pada sebuah biara suster Katholik, Susteran Santa Maria Berdukacita. Mau bagaimana lagi, namanya memang demikian. Namun biara ini ternyata jauh sekali dari kesan
Kemalaman di Kota Ruteng
Langit sudah merah terbakar ketika saya dan Lomar melompat masuk ke kursi tengah mobil travel. Mobil yang terlambat itu pun digeber melintasi padang rumput dari Labuan Bajo menuju ke Ruteng. Sebelum Kabupaten Manggarai dipecah-pecah menjadi tiga, Ruteng adalah ibukota bagi









