Pemberhentian singkat di Donggala mempertemukan saya dengan rumah makan kecil. Simbak yang menunggui pembeli nampak tersenyum sumringah melihat kedatangan saya. Sepertinya sih karena warung ini sepi-sepi saja dari tadi. Daftar menu disodorkan dan pandangan saya langsung tertuju ke kaledo. Bukan
Palu, Kawasan Ekonomi Khusus
Satu mata rantai terpotong. Kawasan Ekonomi Khusus bukan hanya sekedar status, bagi Palu ini mempunyai makna dan implikasi yang jauh lebih besar. Kini perekonomian Palu tidak lagi berada di bawah komando Jakarta. Dengan demikian Palu mempunyai hak mengatur sendiri investasinya
Kehangatan Pagi di Palu
Hangatnya pagi adalah preambule akan panasnya siang. Udara gerah menaungi sempadan Pantai Talise, mencucurkan peluh dari dahi kendatipun hari masih terlampau dini. Di sana pemandangan lautan tenang terhampar luas di sebalik Jembatan Palu yang kuning terang melengkung bak logo McDonald’s
Palu Ternyata Bukan Martil
Hikayat berkisah bahwa tanah ini dulu adalah hampar perairan dangkal. Entah lantaran aktivitas tektonis atau pendangkalan berlebih, terangkatlah tanah ini menjadi sebuah lembah di cekungan Donggala. Topalu’e, tanah yang terangkat, demikian dalam Bahasa Kaili. Palu bukan martil. Jauh dari kesan
Selamat Datang di Kota Palu
Mobil travel yang saya tumpangi dari Poso melaju kencang seakan girang bertemu aspal mulus setelah seharian melalui jalanan berbatu. Hujan yang melanda pesisir Sulawesi Tengah membaur dengan pekat malam seakan tidak sanggup membujuk sopir untuk meningkatkan kewaspadaan akan kegelapan. Mungkin
Sekejap di Balla Lompoa
Sebenarnya siang itu hujan. Namun Rudy dan saya santai saja dan nekat bermotor dari Makassar ke Sungguminasa. Mulai dari berdebat gara-gara GPS yang kurang akurat hingga tersasar menuju arah yang berlawanan, akhirnya kami tiba juga di situs bekas Kerajaan Gowa.
Arboretum Nyaru Menteng
“Sudahlah, saya antar kamu ke sana lima puluh ribu saja,” jawab si tukang ojek sambil menyerahkan helm kusamnya ke tangan saya. Saya tidak punya pilihan sebab mau naik apa lagi ke sana. Dan demikianlah kami meluncur kurang lebih tiga puluh
Melayari Teras Lasang Garu
Pak Gamaliel punya dua kapal, Teras Lasang Garu dan Getek Tahasak Danum. Dua kapal motor ini diparkir tidak jauh dari Tugu Soekarno di paparan Sungai Kahayan dalam kesehariannya melayani lalu lalang arus wisatawan yang berminat menjelajahi sungai ini. Kebetulan pagi
Jembatan Kahayan nan Ikonik
Biaju Besar mereka menyebutnya. Sebuah sungai besar yang angkuh membentengi papar utara Palangkaraya ini memisahkan antara denyut peradaban modern dengan hutan belantara, antara masyarakat kota dan penduduk desa. Namun semenjak Jembatan Kahayan berdiri pada awal dekade silam, tembok kokoh Biaju
Rumah Betang Palangkaraya
Palangkaraya siang itu sunyi dan membara. Langkah gontai mengiringi perjalanan saya menyisir sepanjang trotoar yang bongkah-bongkah tegelnya sudah mulai terlepas. Dengan bermodalkan peta sederhana, saya berusaha mencari rumah betang besar yang berdiri di jantung kota ini. Tidak susah lantaran rumah









