Klentheng di pesisir urban Pontianak ini menjadi tempat pertama yang saya kunjungi ketika bertamu ke kota tersebut beberapa waktu silam. Connie mengantarkan saya dengan sepeda motor dari bandar udara menuju ke kota, namun sebelum mencapai destinasi, kami singgah dahulu di
Kampung Dayak nan Masif
Matahari telah bergeser sedikit melampaui porosnya. Terberkas bayang-bayang tegak lurus dari julangan tiang-tiang berkepala burung rangkong di pelataran lapang merah. Rumah Radakng, demikianlah orang Dayak Kanayatn menyebutnya, dibangun masif di jantung kota Pontianak sebagai duplikat akan sebuah kampung Dayak modern.
Mampir Dulu di Rumah Betang
Meskipun sudah berulang waktu menginjakkan kaki di Bumi Khatulistiwa, pengetahuan saya mengenai pedalaman Kalimantan Barat boleh dibilang masih sangat cetek. Jadi jangan heran apabila berbicara soal budaya Dayak, maka satu-satunya rumah adat yang pernah saya lihat adalah replikanya yang berada
Etalase Budaya Etnis Dayak
Orang Dayak menyebutnya dango. Fungsinya sepadan dengan lumbung, yaitu sebagai penyimpanan padi yang telah dipanen. Tidak sebatas sebagai kontainer, dango mempunyai fungsi integral di dalam budaya masyarakat Dayak sebagai penopang kehidupan. Itulah mengapa di dalam kultur Dayak dikenal upacara Naik
Ini Museum Kalimantan Barat
Andaikata disandingkan dengan museum-museum provinsi lain di Indonesia, bolehlah Museum Provinsi Kalimantan Barat ini berhak berdiam di papan atas. Pasalnya tidak hanya koleksinya yang komprehensif, namun arsitektur bangunannya pun ditata sedemikian rupa seakan-akan kita menjejalah ke sudut-sudut rumah betang yang
Khuntien Untuk Pontianak
Mereka menyebut kota ini Khuntien. Di sini etnis Tionghoa adalah mayoritas, mencakup sekitar sepertiga dari penduduk Pontianak. Sisanya didominasi etnis Melayu dan Dayak, barulah kemudian sebagian kecil etnis Jawa dan Bugis. Menariknya, Khuntien bukan terlahir dari rancang bangun Tionghoa. Kota
Sungai Durian Jadi Supadio
Seperti biasa bagasi pertama selalu tidak bertuan. Saya hanya dapat duduk diam mengamati satu demi satu tas-tas besar dimuntahkan oleh carousel Pelabuhan Udara Internasional Supadio, menatap lengket menanti keluarnya bagasi kepunyaan saya. Teruntuk sebuah provinsi yang terisolasi dari jalur darat
Menatap Lampung dari Atas
“Dari perbukitan sana, kita bisa melihat Bandar Lampung,” kata Hellen sambil memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi, “Di atas situ ada bistro yang kamu mungkin suka. Kita nanti makan di sana saja.” Tidak berapa lama, mobil pun berhenti di sebuah rumah
Dari Vihara Untuk Lampung
“Kamu temenin saya dulu ya, kita mau serahkan ini ke pemuka-pemuka agama di Bandar Lampung,” kata Hellen kepada saya di mobilnya siang itu. Satu bundel dokumen nampak tergeletak di dashboard mobil hanya terlindung oleh windshield dari panasnya matahari. Hellen memiliki
Lamban Pesagi Khas Lampung
Satu-satunya kelambanan yang ada di rumah ini adalah namanya. Tidak ada yang lamban dari Lamban Pesagi, karena di dalam Bahasa Lampung, lamban mempunyai makna rumah. Sedangkan pesagi punya makna persegi. Singkatnya, Lamban Pesagi adalah istilah rumah persegi khas Lampung. Susurilah









