Solo adalah kota berkepribadian ganda. Di kota inilah dua dari empat kerajaan pecahan Mataram masih lestari di tengah hiruk pikuk dentum pembangunan kota. Jantung Kota Solo pun demikian distingtif dengan sebuah gerbang putih bertarikh 1744 diapit oleh sepasang reco nggladhag
Jawa Tengah
Singgah di Kraton Surakarta
“Kenapa Yogyakarta menjadi daerah istimewa, sementara Solo tidak?” tanya Annisa kepada saya ketika kami berdua berjalan menyusuri taman Kraton Kasunanan Surakarta yang rimbun. “Pada tahun 1945 sebenarnya Daerah Istimewa Surakarta itu ada,” jawab saya ringan, “Tetapi konflik dan isu politik
Alkisah Kraton Kasunanan
Apabila Jepang pernah memindahkan ibukotanya dari Kyoto ke Tokyo, maka Kasunanan pernah memindahkan ibukotanya dari Kartasura ke Surakarta. Adalah Geger Pacinan yang dipicu bentrok antara tentara Belanda melawan pedagang Tionghoa meluas menyeret orang-orang Jawa, hingga pada akhirnya Kraton Kartasura turut
Jalan Terjal ke Candradimuka
Rantainya putus. Sepeda motor itu terseok. Mungkin si tukang ojek mulai menyesali tawaran lima belas ribu rupiah yang membuatnya harus jatuh bangun melintasi jalanan rusak ini. Entahlah. Insiden putusnya rantai ini berarti perpisahan untuk saya dan si tukang ojek. Baginya
Salam Berlepas dari Dieng
Meninggalkan Dieng bukan sebatas berlepas dari kesenyapan. Ketika bus-bus turisme berukuran semenjana memompakan asap hitam berlomba-lomba turun dari tinggian Wonosobo menuju ke kota-kota yang jauh lebih gerah. Ketika ibu-ibu pedagang carica dipergantikan oleh toko-toko dan minimarket di sepanjang jalan. Panas,
Jalan Menuju Kawah Sileri
Pemandangan di bawah tersimak bagaikan lukisan cat air. Teruntuk Pak Solihin yang semenjak lahir sudah berada di tempat ini tentu tidak pernah terlintas bahwa keindahan ini begitu spesial bagi kami, orang kota. Terlebih bagi saya yang tinggal di tengah hutan
Legenda dari Kawah Sileri
Dalam kelumrahan budaya Jawa, semakin kondang sebuah destinasi, maka semakin kental pula mitos yang menyertainya. Entah ini korelatif atau kausastik. Kawah Sileri adalah salah satu yang tidak dapat melepaskan diri dari mitos-mitos lokal. Adalah seorang nenek sihir yang tinggal di
Menumpang Mobil di Dieng
Deru mesinnya beresonansi sampai ke tulang ekor. Rasanya bagaikan berkendara di atas mesin pemotong rumput. Namun tentu saya tanpa prerogasi untuk memilih, lantaran mobil bak terbuka ini berbaik hati menawarkan tumpangan bagi kami berempat tanpa imbalan sepeser pun. Melintasi aspal
Dinginnya Pagi di Dieng!
Matahari pagi mengusap wajah, namun hangatnya nyaris tidak terasa. Saya mencoba melongok ke luar namun kaca jendela kamar diburamkan embun. Ada perkataan bahwa puncak dinginnya Dieng adalah pada pagi hari, sesaat sebelum matahari terbit. Dan muramnya angkasa pagi ini seakan-akan
Pesona Telaga Warna Dieng
Sang Putri kebingungan ketika dua ksatria melamarnya. Dikarenakan berniatan memilih menantu terbaik untuk putrinya, Sang Permaisuri meminta kedua ksatria membuat sebuah telaga. Ksatria pertama ternyata mampu menyelesaikan permintaan Sang Permaisuri lebih cepat, jadilah sebuah danau kelam yang bernama Telaga Menjer.









