Savanna itu bertabur dua barang, pohon pandan dan sarang semut. Saya sempat tertegun ketika Harry menggeber sepeda motornya melewati padang rumput luas di kanan kiri jalan yang sejauh mata memandang terlihat ratusan sarang semut raksasa. Inilah musamus, sarang semut Merauke
Papua
Penerjunan Benny Moerdani
Tujuan Indonesia hanya satu, mengacaukan kekuatan Belanda di Pulau Biak. Apabila Merauke berhasil diinvasi dan diporak-porandakan maka Belanda akan mengerahkan pasukannya ke Merauke dan hal tersebut akan memecah konsentrasi pasukan mereka di Biak. Rencana berikutnya adalah menggempur Biak melalui Operasi
Bisik-Bisik Kemerdekaan Papua
“Di perbatasan seperti ini kemerdekaan adalah topik sensitif yang terus dibahas lewat bisik-bisik,” ungkap Pak Jhon kepada saya sembari mengisikan sebotol bensin ke dalam mesin perahunya, “Tidak banyak yang berani bicara. Tetapi semua berbisik-bisik, ada yang setuju merdeka tetapi banyak
Sunyi Taman Nasional Wasur
“Kakak mau berhenti di sana?” tanya Astrid sesaat ketika kami mendekati pintu gerbang Taman Nasional Wasur di Merauke, “Tidak ada siapa-siapa di sana, tetapi ada beberapa papan tulisan yang cocok untuk berfoto.” Entah mengapa di Indonesia sedang ngetren berfoto di
Mengais Rupiah dari Seni
Tangan-tangan tuanya dengan gesit memapas batangan kayu itu dengan pisau. Diukirnya lekuk-lekuk pada kayu kecil tersebut hingga menyerupai miniatur tifa, alat musik khas Papua. Bagi sepasang papa mama dari Suku Marind ini garis batas adalah anugerah. Apalagi kalau bukan kesempatan
Musamus Sarang Semut Raksasa
“Jangan kau tanya kerjaku, tetapi lihatlah karyaku,” ucapan Bupati Merauke tersebut dikenal sebagai Filosofi Musamus yang mendarahdaging dalam kehidupan masyarakat Merauke. Semula saya tidak habis pikir, sebegitu tenarnyakah sarang semut bernama musamus ini? Musamus tak ubahnya menjadi identitas untuk tanah
Mengawal Indonesia dari Batas
“Saya dari Boyolali,” cetus pemuda berseragam loreng-loreng itu seraya mengulurkan tangan menyalami saya. Mas Rino ditugaskan di Asiki, Kabupaten Boven Digoel, sekitar 257 kilometer di sebelah utara Sota. Sebuah jarak yang harus ditempuh sehari semalam dalam kondisi jalan tanah merah
Taman Sota di Ujung Negeri
Mereka bilang ini taman paling akhir di ujung Indonesia. Sebagian lagi bilang ini taman pertama di pintu masuk Indonesia. Segalanya tentu saja bergantung dari mana kita memandangnya. Telusuran jalan beraspal sejauh tiga ratus meter dari pintu gerbang perbatasan membawa saya
Lintas Negara Tanpa Paspor
Tanah di taman itu sedikit ditinggikan dari sekitarnya. Di sebelahnya terdapat sebuah tugu setinggi manusia dewasa yang masing-masing sisinya bertuliskan Team Survey Indonesia dan Australian Survey Team. Tidak terlihat adanya penjelasan mengapa bukan Papua Nugini, melainkan Australia, yang terlibat di
Matahari Terbit dari Merauke
Sepeda motor melambat. Kemudian berhenti di simpang jalan Tugu Kembaran Sabang-Merauke. Monumen kecil di pertigaan jalan ini seakan-akan menjadi totem terminasi bahwa garis rentang Indonesia berakhir di sini, di titik paling timur. Saya memarkirkan sepeda motor di depan salah satu









