“Kan bapak belum pernah ke sini, bapak ikut turun saja sekalian,” ajak Khairi pada sopir taksi yang mengantar kami ke Pondok Pesantren Al-Ihsaniyah di kawasan Gandus. Sambil nyengir, bapak sopir taksi menolak ajakan kami. Jadilah kami berkunjung berdua saja ke
Bank Mandiri di Kota Lama
Bangunan uzur yang berdiri di hadapan saya ini dulunya pernah mengendalikan perdagangan di seantero pantai utara Jawa. Adalah Nederlandsche Handel Maatschaappij yang berkantor di gedung ini. Namun semenjak tahun lalu, Bank Mandiri melakukan restorasi besar-besaran terhadap gedung ini dan menjadikannya
Jejak Historia Kota Lama
“Empat penari membikin hati menjadi senang, aduh, Sungguh kayanya tari mereka Gambang Semarang.” Ia adalah pernyataan artistik sejati dari benci tapi rindu. Di sudut kafe sempit itu, dendang Gambang Semarang mengalun rancak menyesaki ruangan yang dipisahkan oleh sebilah kaca dengan
Old City Trick Art Museum
“Berapa harga tiketnya?” tanya saya kepada mbak-mbak penjaga museum yang mirip bar film koboi ini. “Satu orang? Lima puluh ribu, Mas!” serunya menjawab dari balik teralis. Mahal. Untuk standar Kota Semarang, uang lima puluh ribu setara dengan tiga kali makan.
Di Jantung Tua Semarang
Lengking panjang peluit memecah lamunan saya. Lokomotif uzur ini mengakhiri perjalanan di Stasiun Tawang lebih siang daripada seharusnya. Di sinilah jantung Kota Semarang. Di sinilah pusat kota yang pernah menjadi bandar terbesar di nusantara pada era kolonialisme. Di seluar Stasiun
Santap Kuliner Kota Hujan
Di Bogor, makan takkan pernah berakhir satu ronde. Setidaknya demikianlah spirit yang kami berempat bawa ketika mengunjungi Kota Hujan ini. Dengan semangat seperti itu maka jangan salahkan kami apabila kemudian empat anak hilang ini berkeliaran di sepanjang sentra-sentra kuliner Bogor
Bogor Bersama Bima Arya
“Pembangunannya sekarang jadi kenceng tapi banyak yang keliru,” ledek Eumir ketika kami berempat sedang menikmati santap siang, “Misalnya itu trotoar Kebun Raya ada di sebelah kanan jalan. Padahal kan kebanyakan orang menyetop angkot di sebelah kiri jalan. Kalau begini siapa
Santap Siang Jakarta Lama
Aktivitas paling populer di restoran ini selain makan adalah people watching, alias mengamati manusia-manusia lalu lalang di sepanjang jalan masuk kawasan Kota Tua Jakarta. Setelah tuntas menyusuri sudut-sudut Kota Tua, tibalah saatnya Untsa dan saya beristirahat di restoran ini, sekedar
Pameran Lukisan di Kota Tua
Entah bagaimana ceritanya Untsa dan saya tersasar ke sini. Pada mulanya sih kami hanya akan mengunjungi museum-museum saja tetapi malah masuk ke sebuah pameran lukisan di Kota Tua. Bukan soal itu, tetapi harga tiketnya yang lumayan mahal seharusnya membuat kami
Gema Lapangan Fatahillah
Lapangan Fatahillah adalah altar Geger Pacinan. Kerusuhan Chinezenmoord tahun 1740 menewaskan puluhan ribu orang Tionghoa membanjiri dataran ini dengan darah. Orang-orang Tionghoa ditangkap oleh pemerintah kolonial Belanda, diikat di tanah lapang ini, kemudian sang gubernur memerintahkan eksekusi mati dari jendela









