Memang dasarnya manusia kota tidak pernah melihat kantung semar. Setiap kali bapak pemandu berhenti untuk menjelaskan nama-nama pohon, kami mengitari pohon untuk mengambil gambar sambil terheran-heran. “Ini adalah kantung semar,” jelas si bapak bertopi biru dongker, “Tumbuhan yang makan serangga
Taman Nasional Kerinci-Seblat
Dari pos masuk yang tidak bertuan, kami melangkah masuk menyusuri jalan setapak yang buram setengah terkubur. Rerumputan liar yang menumbuhi tempat itu sudah tinggi, tanda lama tidak dilintasi. Sementara pada kanan kiri, pepohonan runduk dengan bunga-bunga merah bertebaran tidak merata
Pada Kaki Gunung Kerinci
Pada mulanya adalah hutan, kemudian perkebunan, lantas pemukiman. Kini mereka berpotongan beririsan di dalam garis batas yang semakin lama semakin kabur. Dari desa Kersik Tuo nan permai hingga ke rawa-rawa Ladeh Panjang nan muram. Kerinci bukan hanya hutan dan perkebunan,
Salam Pagi di Sungai Penuh
Mobil meluncur kencang di jalanan yang diaspal sekenanya. Kami sudah semalaman berada di perjalanan dari kota Jambi dan pagi ini kami disambut oleh matahari Sungai Penuh. Dan hingga matahari sudah miring empat puluh lima derajat di timur, perjalanan belum berkesudahan.
Danau Pangkalan yang Lenyap
Saya paham benar apabila peta tua tidak selalu akurat. Saya juga tahu pasti bahwa semakin uzur sebuah peta maka semakin besar kemungkinan realita sudah berlainan dari lekuk-lekuk jalan atau pemukiman yang dipetakan. Namun tidak pernah terbersit di dalam bayangan saya
Di Kaki Gunung Mandalawangi
Nama Gunung Mandalawangi, gunung dengan tiga puncak, memang tidak setenar kolega-koleganya di Priangan. Padahal panorama gunung ini pasti anda saksikan ketika anda menaiki kereta api dari timur menuju ke Bandung melalui jalur selatan. Demikian pula ketika saya berkendara menerobos masuk
Menuju Garut Lewat Cijapati
Enggan hati ini untuk berjibaku dengan kendaraan kelas berat di jalur Nagreg. Namun tak banyak yang mengetahui bahwa ada jalur alternatif dari Bandung untuk mencapai Garut. Jalur ini kadangkala dikenal dengan sebutan jalur Cijapati. Rutenya menghubungkan antara Majalaya di wilayah
Memilih Tari Kecak di Ubud
Entah ada berapa lusin sanggar tari di Ubud. Namun Pak Yasa sudah mewanti-wanti saya untuk tidak salah memilih pertunjukan tari kecak. Hal yang seharusnya tidak terlampau menjadi masalah lantaran toh pemahaman saya ihwal seni sangat terbatas. “Pokoknya kalau memilih tari
Semarak Tari Kecak Ubud
Lidah-lidah api menjilat-jilat menyambar udara malam. Percik bunga apinya berbaur dengan asap muram memedihkan mata. Empat atau lima lusin tangan terangkat ke atas, diiringi decak-decakan kencang yang menelan heningnya malam dalam nuansa sakral nan majestik. Entah sudah berapa puluh kali
Monyet-Monyet dari Sangeh
Ibu-ibu semi-uzur itu berteriak-teriak layaknya orang sinting. Kemudian diayunkannya tas tangan besar ke arah seekor monyet nakal. Brak! Si monyet terpelanting dan lari ke atas pohon. Monyet besar yang semula hanya diam-diam saja di belakang tiba-tiba terpancing untuk ikut mendekati









